Minggu, 05 April 2015

Api Tauhid



Resume 2: Indonesia Membaca
Oleh: Try Antika
Judul                    : Api Tauhid
Penulis                 : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit               : Republika Penerbit
Tebal Buku          : 574hal 



Api Tauhid. Sebuah novel bergenre sejarah novel kedua yang saya baca setelah tetralogi Pramoedya Ananta Toer, yakni Bumi Manusia, dkk. Novel karangan Kang Abik - begitu sapaan hangat Habiburrahman El Shirazy- ini hadir dalam suasana yang berbeda dari pada novel-novel sebelumnya, seperti Ayat-Ayat Cinta, Dalam Mihrab Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dll, tapi masih memberikan khas sebuah novel karangan Kang Abik, yakni mengisahkan sebuah cerita dengan kultur pondok pesantren didalamnya.
Sejatinya sebuah novel sejarah, kisah perjalanan cinta dua umat manusia selalu menjadi bumbu khas yang membarenginya. Begitu pula di dalam novel Kang Abik ini. Kisah perjalanan cinta seorang laki-laki desa asal Tegalrandu, Lumajang yang syarat akan pelajaran, Fahmi, menjadi cerita penghantar dalam novel sejarah ini. Akan tetapi dalam resume saya kali ini, cerita perjalanan cinta Fahmi bukanlah yang menjadi topik bahasansaya, melainkan perjuangan syiar Badiuzzaman Said Nursi dalam mempertahankan Islam di Era Turki Ustmani-lah yang menjadi cerita resume saya kali ini.
Secara utama, novel ini dominan mengisahkan tentang sejarah kejayaan islam Era Turki Utsmani melalui sosok Thalabul Ilmi yang luar biasa dari sebuah desa kecil bernama Nurs, Kurdistan, yang selanjutnya akan digelari dengan “Keajaiban Zamannya” atau “Badiuzzaman”, ialah Badiuzzaman Said Nursi.Gelar ini ia terima dari para Ulama karena kemampuannya dalam mempelajari kitab-kitab tebal dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan ia mampu menghafal kitab-kitab beserta pemaknaannya dalam sekali baca saja.
Perjuangan Badiuzzaman Said Nursi dalam mempertahankan syariat islam sebagai landasan bergerak seorang manusia dalam novel ini dibagi menjadi tiga, atau dalam novel ini disebutkan sebagai Said Lama, Said Baru, dan Said Ketiga.
Said Lama adalah Said yang memperjuangkan sistem pendidikan dengan kurikulum Tuhan, yakni simak QS. Al Baqarah: 129 dan 151, QS. Ali Imran: 164, dan QS. Al Jumu’ah: 2, dimana sistem pendidikan yang mengandung tiga aspek penting, yakni pendidikanyang mengajarkan ilmu-ilmu modern, dengan penyempurnaan ilmu-ilmu agama, dan penerapan akhlak tasawuf untuk perbaikan akhlak manusia. Melalui sistem pendidikan yang diperjuangkan Said Nursi ini, ia yakin umat ini akan maju dan merebut kembali kejayaannya.
Dalam perjalanan pelajaran Badiuzzaman Said Nursi, kemudian lahirlah Said Baru. Saat itu, Said Nursi  merasa ilmu dengan puluhan kitab yang telah ia baca dan hafal diluar kepala belumlah cukup untuk menghadapi bahaya besar yang akan datang nantinya melanda umat ini. Said Nursi merasa membutuhkan kekuatan yang lebih. Akhirnya, Said Nursi memutuskan untuk melakukan perjalanan gunamenyendiri, bertafakkur, dan menyepi di sebuah rumah kayu tua di daerah Sariyer, sisi Eropa Istanbul. Disana ia mendapatkan salinan kitab karya Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, yang berjudul Futuhul Ghaib, lalu mempelajarinya. Kemudian mempelajari pula kitab Maktubat karya Syaikh Ahmad Sirhindi. Melalui kitab Maktubat inilah, seorang Said Baru lahir. Terdapat kalimat yang sangat menyentak Said Nursi saat itu, yakni “Pilihlah satu kiblat saja!”. Said Nursi berpikir keras, kemudian langsung terilhami bahwa satu-satunya kiblat yang sejati adalah Al-Qur’an. Menjadilah Said Baru, yakni Said Nursi yang mulai bergerak belajar, mengajarkan, dan berjuang melawan kelaliman rezim sekuler dan mewujudkan kejayaan islam kembali dengan senjatanya yakni Al-Qur’an. Said Baru adalah Said yang fokus dalam Al Qur’an dan menjauhi urusan yang bersifat fana dan duniawi, termasuk urusan politik pemerintahan yang pada Said Lama menjadi salah satu tunggangan dalam mewujudkan gagasan-gagasan perbaikannya. Sehingga pada Said Baru inilah keluar kalimat yang sangat terkenal, yakni “A’udzubullahi minasy syaithan was siyasah.” Aku berlindung kepada Allah dari setan dan politik. Selain itu, pada Said Baru ini pula,Risalah Nur, kitab Said Nursi yang paling fenomenal dan menjadi rujukan para Thalabul Nurmulai ditulis.
Selanjutnya, hadirnya Adnan Menderes dengan Partai Demokrat yang menjadi tandingan Partai Mustafa Kemal Ataturk membawa angin segar dalam perjuangan Said Nursi. Adnan Menderes berjanji jika ia menang dalam politik ini, maka ia akan mengembalikan sendi-sendi Islam semampu yang dia bisa lakukan, dan akan mengizinkan publikasi Risalah Nur secara legal. Kepemimpinan Adnan Menderes menjadi sejarah lahirnya Said Ketiga, yakni Said Nursi yang kembali melibatkan dirinya dalam politik. Adalah politik yang bersih yang ia jadikan sebagai tunggangan dalam menyampaikan ajaran agama Allah yang juga harus terus dijaga kebersihannya.
Begitulah jihad Said Nursi, Sang Badiuzzaman. Ia adalah Pembelajar yang Baik, Pendengar yang Baik, Penasehat yang Baik, Pendakwah yang Baik. Ia adalah Pejuang Tauhid Ulung. Mempertahankan kobaran api tauhid agar tetap menyala dimanapun kakinya berpijak disaat banyak rezim sekuler yang terus dengan ego dan sombongnya berusaha untuk memadamkan api tauhid tersebut. Berjihad dalam setiap kemungkinan alat yang bisa ia gunakan, lisannya, penanya, maupun jism-nya. Tak ragu-ragu ia turut turun pula dalam perang melawan rezim sekuler dibawah perintah Mustafa Kemal Ataturk. Berpindah dari penjara ke penjara selama kurang lebih 25 tahun tidak sedikitpun melunturkan semangat jihadnya. Ialah Keajaiban Zamannya. Badiuzzaman Said Nursi. Semoga Allah merahmatinya. Aamin.
Oleh: T2. IM3

0 komentar: