Minggu, 05 April 2015

I Wonder About Allah (Aku Penasaran tentang Allah) 1

Peresensi : Yurista Yohasari (IM 2)
Kategori Bacaan : Buku
Judul : I Wonder About Allah (Aku Penasaran tentang Allah) 1
Halaman : 122
Penulis : Őzkan Őze
Penerbit : Pandu Aksara (diimpor dari Penerbit Uğurböceği, Turki)



“Tante Rista, ‘zina’ itu apa?”
-
Buku ini dimulai pada saat anak laki-laki penulisnya, Őzkan Őze, bertanya, “Ayah, kenapa aku tidak bisa melihat Allah?”

Jika pertanyaan itu muncul dari remaja atau orang dewasa, tidak perlu bingung mencari jawabannya. Tapi sulit jika yang menanyakan adalah anak kecil, maka jawaban harus diberikan sesuai dengan kapasitas pemikiran seusianya.

Ada 7 buku yang ditulis, tapi sependek yang peresensi tahu, baru jilid pertama dan kedua yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Jilid pertama dan kedua mengandung jawaban-jawaban yang telah diberikan atas pertanyaan-pertanyaan mengenai Allah. Jilid ketiga mengenai Rasulullah SAW. Jilid keempat mengenai kitab suci Al-Qur’an. Jilid kelima mengenai kematian dan kehidupan setelahnya. Jilid keenam mengenai iman kepada takdir. Jilid ketujuh mengenai malaikat.

Buku ini menjadi penting dibaca untuk mempersiapkan para orang tua dan calon orang tua untuk tidak panik atau kaget lalu bereaksi spontan kasar atau malah asal menjawab. Bagi yang sudah kenyang bergelut dengan dunia kelas parenting, pasti paham mengapa menjawab pertanyaan anak dengan benar dan tepat menjadi penting untuk dipelajari dan dipahami.

Saya kutip dari blog Majalah Qalam, “Bila Sikap Kritis Anak Ditanggapi Negatif” yaitu :
1)      Mematikan kreativitas dan rasa ingin tahu anak.
2)      Anak menjadi kurang percaya.
3)      Anak akan tumbuh jadi orang yang cenderung memilih diam.
4)      Anak menjadi frustrasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.
5)      Anak terdorong untuk mencari sumber lain yang belum tentu benar untuk memenuhi kebutuhannya yang tak terpenuhi dari orang tua.
6)      Merenggangkan hubungan anak dengan orang tua.
Keenam hal diatas tentu tidak diharapkan orang tua manapun terjadi pada anak-anaknya.

Buku ini tentu bukan satu-satunya buku yang membahas mengenai bagaimana cara menjawab pertanyaan anak-anak yang kadang mengejutkan. Peresensi sendiri berpendapat, bahwa tidak serta-merta jawaban dalam buku ini kita katakan kepada anak-anak, tetapi dari buku ini sesungguhnya melatih para orang dewasa untuk mencari jawaban yang tepat dan tetap dalam koridor syar’I untuk diberikan kepada anak-anak. Buku ini memberikan contoh jawaban yang tepat dan benar secara syari’at dengan menggunakan contoh yang mudah dicerna akal logika.

Sejumlah pertanyaan tentang Allah yang dibahas dalam buku ini adalah : Kenapa kita tidak bisa melihat Allah? Bagaimana kebesaran Allah? Berada di mana Allah? Siapa yang menciptakan Allah? Seperti apakah Allah itu? Kenapa cuma ada 1 Tuhan? Bagaimana bisa Allah melakukan banyak hal sekaligus? Kenapa Allah menciptakan pohon-pohon yang berbuah?

Setelah membaca buku ini, peresensi merasakan lebih mudah menjawab soal UAS di kampus dibanding menjawab pertanyaan anak kecil. Jika salah menjawab saat UAS, nilai masih dapat didongkrak dari kehadiran, tugas, atau malah ada perbaikan. Tapi jika salah menjawab pertanyaan anak, sama dengan menghancurkan masa depan si anak.

-

“Tante Rista, ‘zina’ itu apa?”

Pertanyaan ini diajukan oleh salah satu keponakan perempuan saya yang sedang duduk di kelas 6 SD. Saat ia bertanya, yang ada di otak saya adalah, “ini gimana sih sekolahnya?? Sekolah Turki kok zina aja ngga dijelasin??” 

Tapi saya langsung sadar bahwa saya lah yang salah. Saya lah yang bodoh. Untuk pertanyaan mudah, harusnya saya dapat menjawab. Tapi masalahnya pertanyaan ini keluar dari mulut anak SD, yang kalau saja itu keluar dari mulut teman sebaya akan jauh lebih mudah untuk dijawab.

Sembari saya mengomel dalam alam pikiran saya sendiri, saya pura-pura bertanya apa pertanyaannya dan dimana ia temukan kata itu dengan maksud untuk mengulur waktu untuk saya dapat menemukan konstruksi kata-kata yang tepat sebagai jawaban.

“Zina itu salah satu bentuk dosa. Mencuri itu dosa, zina juga sama perbuatan dosa. Zina adalah akibat dari pacaran, makanya pacaran itu dilarang.” Alhamdulillaah saya dapat menjawab dan keponakan saya tersebut menunjukkan ekspresi paham dan puas dengan jawaban saya. “Oo, pantes zina itu dilarang.”

Saya sempat terpikir untuk menjawab, “kalau kamu sudah dewasa, baru Tante jelasin apa itu zina. Sekarang kamu masih kecil, ngga perlu tahu.” Tapi saya pikir lagi, “zina itu bisa menyerang siapa saja, dan kalau ngga dibentengi dengan iman dan ilmu bakal bahaya hidup anak zaman sekarang.”

Jujur. Belum pernah saya sepanik ini menghadapi pertanyaan. Saya tahu jawabannya, tapi saya harus menjelaskan dengan logika anak kecil. Saat sidang skripsi lalu, saya tidak dapat menjawab utuh 4 fungsi partai politik tapi saya tidak sepanik saat ditanya definisi zina oleh anak kelas 6 SD.

0 komentar: