Minggu, 26 April 2015

Setengah Pecah Setengah Utuh

Penulis    : Parlindungan Marpaung
Judul       : Setengah Pecah Setengah Utuh
Tahun      : 2012
Penerbit   : Erlangga



Buku ini berisi 58 cerita inspiratif beserta penjelasan dan hikmah dari tiap cerita. Buku ini akan saya resume menjadi 3 bagian agar saya dapat membuat penjabaran yang lebih detail.

Resume Bagian I
Setengah pecah setengah utuh. Sebuah telur akan dapat digunakan setelah dipecahkan terlebih dahulu, sama seperti manusia yang seringkali harus menjalani masa-masa sulit entah itu kegagalan atau perasaan yang hancur untuk bisa memunculkan makna dan memehami arti hidup itu sendiri, yang akhirnya akan mendewasakan mental dan pikiran agar bisa bertindak dengan bijak.
Masalah akan selalu ada disetiap jiwa yang masih memiliki hidup. Bahkan adanya teknologi informasi yang tinggi akan menghasilkan masalah baru, manusia akan merasa semakin sepi dan hubungan antar manusia semakin hambar. Bukankah semua masalah juga harus dipecahkan?. Masalah yang kita hadapi sesuai dengan level kehidupan yang kita miliki.

Kehidupan berjalan mengikuti koridor dan waktu pengaturan dari yang Punya Kehidupan. Baik atau buruknya kehidupan yang kita jalani tergantung pada persepsi kita tentang itu. Masalah adalah pelajaran, dan masalah ada pada semua orang. namun hidup kita terlalu singkat untuk mendapat pelajaran langsung, untuk itu kita perlu belajar dari pengalaman orang lain agar tidak  membuat kesalahan yang sama atau minimal kita bisa lebih baik memecahkan masalah yang sama karena ada persiapan sebelumnya.

Dikisahkan pada suatu perjalanan kereta dari Penang ke Kuala Lumpur ada seorang anak laki-laki ditemani ayahnya yang sedang duduk dibarisan bangku kereta. Tidak lama berselang sang anak mulai berjalan-jalan, lalu berlari-lari dan berteriak-teriak. Sang pramugari yang melayani awalnya bersikap baik dengan tersenyum menegur dan menenangkan, tatapi tidak bertahan lama. Sang ayah hanya duduk diam seolah tidak dapat berbuat apa-apa. Berkali-kali pramugari menegur namun kondisinya sama, si anak tidak bisa diam. Tiba-tiba sang anak berlari dan menabrak pramugari yang membawa baki minuman yang penuh dengan air, semua air yang dibawapun tumpah dan gelasnya yang ada pecah, akhirnya pramugari tidak dapat lagi menahan emosinya dan memarahi si anak dan membawanya kembali ketempat duduknya. Peristiwa ini menjadi tontonan bagi para penumpang lainnya. Si anak akhirnya duduk dan menangis. Lalu pramugari bertanya kepada ayahnya kenapa anaknya bersikap demikian dan menanyankan dimana ibunya. Si ayah berkata “saya juga heran kenapa dia bertingkah demikian, biasanya tidak begitu” dan dengan wajah sedih si ayah melanjutkan “ ibu anak ini ada di gerbong belakang kereta untuk dibawa zenazahnya ke kampung halamannya di Kuala Lumpur untuk dimakamkan, dia meninggal tadi pagi” (Dikutip dari salah satu cerita berjudul “Ibu Anak Itu di Gerbong Belakang”)
Lalu apabila kita menjadi salah satu dari penumpang, atau sebagai ayah, atau sebagai pramugari akan melakukan hal yang sama?

Penelitian yang dilakukan oleh John Chrisant (2001) menunjukkan bahwa orang-orang yang suka berpreasangka buruk, membicarakan orang lain, dan menebarkan kebencian dan kecurigaan akan menimnulkan abnormalitas prilaku. Dendam, iri hati, dan kebencian hanya akan memperberah hidup kita yang memang awalnya sudah sulit, hal demikian jika dibiasakan akan mengarahkan kita pada gangguan kejiwaan. Just be positive, itu lebih menyehatkan.
Lalu apabila kita menjadi salah satu dari penumpang, atau sebagai ayah, atau sebagai pramugari masih akan melakukan hal yang sama?

0 komentar: