Minggu, 26 April 2015

Hitung Tokek



Judul                     : Hitung Tokek
Penulis                  : Rubee Putri Risdiantoro dkk (siswa-siwi kelas 6 Sekolah Alam Bogor)
Penerbit                : Salam Publising
Tahun terbit          : 2015
Tebal                     : 300 halaman
Jenis                      : Kumpulan Cerpen



Salah satu alasan meresume buku ini adalah karena buku ini diberikan secara cuma-cuma alias gratis oleh penulisnya langsung yang tidak lain adalah murid saya sendiri (sedikit narsis... J ), selain itu karena buku ini memang bagus banget untuk dibaca terutama untuk kalangan siswa-siswi SD yang sedang seru-serunya dengan masa sekolah dan masa remaja mereka, buktinya buku ini langsung ludes di hari pertama  launcing dan sekarang sedang memasuki cetakan kedua.
Ide awal pembuatan buku ini adalah KPI sekolah yang mewajibkan setiap siswa yang lulus SD wajib memiliki satu buah karya tulis yang dipublikasikan. Seiring berjalannya waktu dari tahun ketahun minat menulis anak-anak mengalami banyak kemajuan sehingga akhirnya karya mereka tidak hanya layak untuk di publikasikan dalam komunitas sekolah tapi juga sudah sangat layak untuk di jual. Ini adalah karya kedua yang berhasil dikomersilkan setelah tahun sebelumnya meluncurkan kumpulan cerpen berjudul “Misteri Dibalik Dinding”.
Hitung tokek diambil dari cerpen karya Rubee Putri Risdiantoro yang juga penulis KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya) dan baru saja memenangkan juara lomba menulis cerpen tingkat nasional. Hitung tokek bercerita tentang seorang siswa bernama Itong yang percaya bahwa suara tokek dapat menjadi ramalan masa depan hanya dengan menghitung suaranya. Itong menjadikan suara tokek sebagai ajang mempertaruhkan banyak hal terutama ketika ia bingung akan suatu hal. Bahkan ketika akan menghadapi ujian pun Itong masih percaya suara tokek akan menyelamatkannya dari ujian. Itong lupa bahwa hakekat keberhasilan yang sesungguhnya  adalah usaha, kerja keras dan doa bukan suara tokek.
Dari hitung tokek kita berlanjut ke cerpen “Asal Usul Asyil” karya Humaira Gaharu, di cerpen ini diceritakan tentang rasa penasaran Rani terhadap Asyil yang selalu bisa menghidupkan suasana dengan cerita-ceritanya yang menarik. Rani melampiaskan rasa penasaranya dengan selalu mengawasi gerak-gerik Asyil, hingga suatu hari Rani nekad membuntuti Asyil sepulang sekolah. Dan mendapati kenyataan yang mengharukan, hikmah terbesar yang dapat di ambil setelah selesai membacanya adalah kita tidak boleh berburuk sangka terhadap orang lain sebelum kita mencari tahu kebenaran yang terjadi.
Ada juga cerita tentang “Si Juki” cerita sarat makna tentang kesombongan dan kerugian dari memiliki sifat sombong. Banyak ide yang berkembang dari kumpulan cerpen ini, tidak hanya menyoal tentang persahabatan dengan bumbu-bumbu klise, atau menyoal tentang pertempuran hebat yang tak ada manfaatnya. Banyak cerita yang meninggalkan jejak bagi pembacanya untuk memperoleh manfaat.
Judul serta jalan cerita yang unik dapat kita temukan dalam cerita Tanda Tangan Tanda Tanya, Jurit Malam, Uji Nyali, Jerawat Pertama, Tali Rafia, Roppan dan angin emas membawa angin segar bagi pembaca lewat keunikan yang disampaikan penulis dicerpennya.
Cerita dengan latar pertempuran dapat kita temukan dalam Tiga Pendekar Sakti, Petualangan Mencari 5 Senjata Sakti, Lima Satria Pinningit, Sang Pengendali Mimpi, Robot Bersaudara, Cuma Mimpi, Ayahku Pahlawanku dan Pasukan Emas. Cerita dengan latar keluarga juga tak kalah seru untuk dibaca seperti cerita Kebaikan Bapak, Banjir Maut, Juki, Sang Backpacker, Hantu Api, Sebuah Pesan Penting dan Zee.
Tak Cuma itu, ada juga cerita berlatar misteri dari cerpen berjudul “Satu minggu Tiga Hari”, “Lima Huruf dari Satu Kata yang Kuingat”, “Ruang lain”. Semua cerita dengan total 44 cerpen yang ditulis para siswa-siswi kelas 6 seperti sebuah paket makan siang lengkap dengan banyak ide, latar dan gaya kepenulisan yang membuat pembaca haru, senang, kocak, sedih juga seram. Penasaran untuk melahap keseluruhan isinya??? Yuk miliki dan baca sekarang juga.

Selamat Membaca J
Bogor, 19 April 2015
Nurjanah
Indonesia Membaca 3

0 komentar: