Minggu, 05 April 2015

Yoyoh Yusroh Mutiara yang Telah Tiada





Judul                           : Yoyoh Yusroh Mutiara yang Telah Tiada
Penulis                         : TIM GIP
Penerbit                       : Gema Insani
Tebal Halaman            : 208 Halaman




Tidak banyak perempuan yang mampu mengelola dengan baik, antara tugasnya di rumah (sebagai seorang isteri dan seorang ibu) degnan tugasnya di ruang publik.
Kemampuan mengelolah itu didukung oleh orang-orang yang berada dibelakang perempuan berprestasi itu.
Buku ini merupakan biografi Ummi Yoyoh Yusroh, seorang perempuan yang dikarunia 13 anak, dalam aktivitasnya bersama keluarga dan aktiivitas dakwahnya di masyarakat. Bak mutiara, kisah Ummi ini sangat berharga untuk diteladani. Semoga akan hadir mutiara-mutiara yang mampu meneruskan perjuangan Ummi, selamat jalan, Ummi....

Buku yang begitu menarik untuk dibaca. Membangunkan emosi pembaca yang mungkin selama ini tertutup oleh bacaan yang monoton. Buku ini menjadikan emosi kita beraneka warna layaknya pelangi. Jangan salahkan saya jika membaca buku ini Anda akan meneteskan air mata dengan spontan, jangan salahkan saya jika Anda tiba-tiba tersenyum sendiri dan jangan salahkan saya jika Anda tertabrak kereta karena terhipnotis oleh dasyatnya perjalanan kisah dalam buku ini, (jadi jangan baca di rel kereta api yaaa, hehehe)
Buku yang berisi kisah perjuangan seorang mahasiswi, seorang isteri, seorang seorang Ummi (Ibu), seorang wakil rakyat yang bak mutiara. “Setiap amanah yang diembankan, beliau menjalankannya ‘sampai titik darah penghabisan’. Bunda Yoyoh adalah cucran air mata air yang bening. Berparasdan berpostur biasa, namun kekuatan hati beliau dan kemampuan menejerial serta keunggulan dalam aklnya, menjadikan Almarhumah pantas menjalani sebagian besar hidup sebagai pemimpin. (Hj. Neno Warisman)
Kita mulai perjalanan penerawangan kitapada buku ini dimulai dari kisah kanak-kanak tokoh

Bagian I
Belaian Isalam Sejak Kecil
“sejak usia 4 tahun dia (Ummi) sudah hafal Tabarak (surah Al-Mulk)” (Ibunda_Hj. Amina)
Lahir Selasa, 14 November 1962 di Batuceper, Tanggerang, Yoyoh Yusroh adalah anak ke-4 dari 10 bersaudara dari pasangan alm.H.Abdussomad dan Hj. Aminah.
Petualangan Ummi sejak kecil dimulai ketika ayahada mengajaknya untuk mengisi pengajian pada hari-hari besar umat Islam dari surau ke surau, masjid ke masjid. Ayahanda Ummi juga membiasakannya untuk tampil di depan orang banyak. Beliau banyak melatih Ummi berpidato dengan teks terjemahan dari Arab Melayu sejak Ummi umur 5 tahun. Sang ayah mengajarkan Ummi membaca kitab-kitab Arab gundul itu sedari kecil. Dari sinilah timbul kecintaannya untuk membaca. Yang mengesankan adalah Ummi mampu 6 kali khatam Qurr’an saat Ramdhan. Ibu Ummi (biasa dipanggil Emak) sangat menekankan kepada anak-anaknya untuk  gemar dan cinta membaca Al –Qur’an. Pada usia SD Ummi sudah hafal surah Al-Mulk, Yaasiin, Al-Kahfi dan Al-Waaqi’ah.

Bagian II
Pejuang Gerakan Jilbab
“Beliau merupakan orang yang paling gigih memperjuangkan hak Muslimah saat terjadi pelarangan pemakaain jilbab” (Ramian Sorad)
Setelah lulus dari Pendidkan Guru Agama Negeri Pertama di Tanggerang, Ummi melanjutkan sekolahnya di Pendidikan Guru Agama Atas di Pondok Pinang di Jakarta. Setelah tamat Ummi melanjutkan kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah di Fakultas Adab Jurusan Sejarah (atas saran pamannya). Pada awal-awal semester masa berkuliah Ummi menjadi pionir terjadinya gerakan. Dalam waktu semalam Ummi dapat menggerakkan sekitar 300 orang dari pelajar-pelajar sekolah Islam untuk mendemo Mendiknas pada waktu itu agar menarik larangan berjilbab bagi Muslimah di sekolah-sekolah umum. Setelah pergerakan itu akhirnya pemerintah melunak dan membolehkan para Muslimah memakai jilbab. Padahal masa itu wanita-wanita yang kuliah di IAIN sana tidaklah memakai jilbab, kerudung pun tidak.

Bagian III
Hari-hari Menuju Pernikahan
“sebelum saya, sudah ada 35 orang yang melamar Ummi” (Budi Darmawan, suami Almarhumah)
Suatu waktu ayah Ummi datang memberitahukan bahwa ada seorang yang akan datang melamar Ummi tiga hari yang akan datang. Orang itu sangat tersohor dikampungnaya, apalagi orang tersebut baru saja menjual tanah berhektar-hektar yang kini menjadi bandara Soeta. Ummi ingin menolak lamaran itu karena sangsi dengan semangat dakwah sang pelamar. Orangtau pun menantang apabila menolak Ummi harus menyiapkan calon lain.
 Di salah satu sudut Jakrta, seorang pemuda bernama Budi Darmawan masih merupakan mahasiswa jurasan Psikologi UI, yang merupakan 13 mahasiswa dari 111 orang yang berkuliah di sana, sisanya mahasisswi. Kala itu Abi sedagn giat-giatnya tertarik untuk belajar Islam lebih dalam. Semangat belajar dan mempraktikkan syariat Islam kala itu terbentur dengan kondisi kampus. Abi menceritakan kegelisahannya itu kepada sahabatnya yaitu Suharna Surpranata, Zainal Muttaqien da Almarhum Rujib.
Tepat sehari menjelang pemuda dari Desa Batuceper melamar Ummi, Ummi mendapat kabar dari ustad bahwa ada lelaki yang siap melamarnya. Ummi memberitahukan kepada keluarga. Kontan keluraga Ummi panik kareana waktu begitu sempit untuk mempersiapkan diri menjamu tamu. Akhirnya datanglah yang ditunggu. Satu masalah selesai.

Bagian IV
Biduk Pernikahan
perselisihan yang bagi orang lain butuh waktu 3 hari, menjadi urusan yang bisa selesai hanyaa 5 menit” (Budi Darmawan, suami Almarhumah)
Begitu menikah Ummi dan Abi tinggal di Pramukasari, Jakarta Pusat. Tinggal disebuah rumah kontrakan denga sewa 300ribu. Ummi tak pernah mengeluh apalagi meratap, Ummi hanya punya rasa syukur dari ssekian banyak kesulitan dari biduk rumah tangga. Ummi dan Abi mempunyai strategi tersendiri dalam menanggulangi “gejolak” dari keluarga masing-masing. Ummi menjadi juru bicaara Abi terhadap keluarga Ummi dan Abi menjadi juru bicara Ummi terhadap keluarga Abi.

Suatu ketika satu keluarga non-muslim akhirnya memutuskan pindah dari linkungan Ummi tinggal. Dia tidak ingin berlama-lama menajdi tetangga Umii. Bukan karena Ummi usil atau tagnan Ummi yang jahil. Dia juga  pindah bukan karena berselisih dengan keluarga Ummi. Mereka pindah karena kebaikan Ummi, mereka memandang harus menyyelamatkan aqidah agamnya. Kebaikan Ummi sperti “menembus” jaring pertahanan keyakinan keluarga non-Muslim tersebut.

Di sisi Lin keteladanan Ummi, suatu ketika di musim kampanye sang sopir menyarankan Ummi untuk istirahat. Ummi malah menjawab santun “kita berjuan buat umat. Berjuang capek-capek, nanti istirahat di surga. Makanya tidurnya sedikit.”

Ummi selalu mengucapkan salam pada tanaman di sekitar rumahnya “Assalamu’alaikum melati,, mudah-mudahan kamu bunganya lebat, ya”. Ternyata betul. Dalam tempo satu atau dua bulan pohon melari berbunga amat banyak.

Bagian V
Pola Mendidik Anak
“pendidik harus dilakukan sedini mungkin. Sewaktu di dalam kandungan pendengaran seorang bayi sudah dapat berfungsi. Seorang wanita yang sedang hamil hendaknya membaca ayat-ayat Al Qur’an”(Ummi/Yoyoh Yusroh)
-          Sejak dalm kandungan Ummi sudah membuka akses Al-Qur’an kepada anak-anaknya. Sambil mengelus-ngelus perut yang sedang mengandung Ummi membacakan Al Qur’an
-          Setelah usia 6-8 bulan Ummi mengenalkan huruf latin  dan huruf Arab. Salah satu cara Ummi adalah mengganati kata Ci-luk-ba dengan Alif-Ba
-          Membangunkan anak-anak untuk sahur puasa sunnah dengan lembut. Ummi menghindari cara seperti memerrcikan air ke muka dan cara kasar lainnya. Tidak heran ketika anak berusia 3,5 tahun sudah terbiasa  melakukan puasa Ramadhan.
-          Ummi sering mengajak anak-anaknya wisata pada malam hari, yaitu untuk menunaikan shalat malam
-          Ummi mengajak anak-anak untuk belajar i’tikaf selama sepuluh hari terkahir Ramadhan
-          Setiap tahun Ummi punya program untuk mengajak semua anaknya umrah bergantian. (sebagai liburannya)
-          Menjadikan model langsung
-          Memilih sekolah berbasis Qur’an seperti pesantren dan Sekolah Islam Terpadu
-          Ummi menceritakan kisah orang-orang sukses yang mana mereka melawatinya dengan kerja keras.
-          Ummi mengembangkan teknik dialogis. Anak – anak diajarkan untuk mengajukan proposal kepada Ummi jika ingin memiliki sesuatu semisal televisi atau telpon seluler. Isi proposal adalah manfaat memilikinya dan apa mudharatnya.

Bagian VI
Personal-Sosial-Politik
Ummi Yoyoh  dengan  mottonya “menjadi agen rahmatan lilalamin” secara personal ummi Yoyoh memiliki target menyelesaikan tilawah Qur’an 3 – 5 Juz setiap harinya. Dalam kondisi sibuk ummi target beliau adalah khatam tiga juz. Jika dalam kondisi yang tidak sibuk ummi khatam lima juz. Selain menjaga tilawahnya, ummi juga pandai menjaga kesehatnnya. Ummi menghindari makanan yang mengandung Monosodium Glutamat (MSG) dan memilih makakan yang biasa Rasulullah makan,seperti daging kambing, susu kambing, buah tin dan buah zaitun. Ummi dikenal sebagai figur yang tak mudah lelah, selain makan-makanan yang sehat ummi juga selalu mengkonsumsi  hababatussauda. Olahraga ala ummi yaitu dengan memilih berjalan kaki dan memilih menaiki anak tangga ketimbang naik lift ketika berada di gedung DPR.

Secara sosial, ummi adalah pribadi yang ringan tangan suka menolong orang-orang disekitarnya. Meskipun orang tersebut tak meminta pertolongan namun ummi selalu bisa membaca situasi dan kondisi orang lain. Ummi yang terkenal dengan sifatnya suka menolong  sampai-sampai beliau pernah memberikan hartanya yang paling berharga dari pernikahannya. Ummi juga figur yang sabar, figur pemaaf,  tiada dendam, bersungguh-sungguh, teman andalan dan sayang keluarga.

Dalam dunia politik, ketika ummi diberi amanah di DPD Partai Keadilan Sosial, ummi selalu menjaga hubungan yang baik dengan siapa pun menjadi modal sehingga Ummi tidak memiliki musuh dalam berpolitik. Ummi tiga kali berada di DPR RI dalam komisi yang berbeda diantaranya: Ummi pernah berada di komisi I (Bidang pertahanan, intelijen, luar negri, serta komunikasi dan informatika). Periode selanjutnya, Ummi berada di komisi VII (Bidang enrgi SDM, riset dan teknologi serta lingkungan hidup). Di akahir periode, ummi fokus dengan ruang lingkup kerja dibidang agama, sosial dan pemberdayaan perempuan yang berada dikomisi VIII.

Kiprah ummi sebagai anggota dewan, ummi menjalankan tugasnya di DPR tidak serta merta memakai fasilitas yang diberikan untuk anggota dewan. Misalnya, ketika melakukan kunjungan terhadap jamaah haji, ummi tidak sungkan untuk menginap bersama jamaah haji lainnya. Ummi tidak menginap di penginapan mewah yang telah disediakan. Hingga suatu waktu ummi berkumpul dengan jamaah haji lainnya pernah diusir petugas karena bukan bagian dari jamaah. Itu terjadi dua kali. Ummi juga memperjuangkan TNI berjilbab, UU Pornografi dan UU PKDRT dengan segala perjuangannya ummi pun memperoleh hasil yang manis.

0 komentar: