Minggu, 05 April 2015

Bermain Lebih Baik daripada Nonton TV



Judul                     : Bermain Lebih Baik daripada Nonton TV
Penulis                  : Athif Abul’id dan Syeikh Muhammad Sa’id Marsa




                Rasulullah S.A.W adalah edukator pertama yang lebih banyak tahu tentang pentingnya mainan dalam kehidupan anak-anak. Ada banyak bukti yang menunjukkan bagaimana perhatian beliau terhadap mainan. Diantaranya, suatu ketika beliau pernah bermain dengan anak-anak para sahabatnya dan meminta mereka untuk berlomba menuju tempat beliau duduk. Diriwayatkan bahwa beliau suka bermain dengan Hasan dan Husain, beliau merangkak sementara kedua cucunya bergelantungan di kedua sisinya sambil mengatakan, “sebaik-baik unta adalah unta kalian dan sebaik-baik orang yang adil adalah kalian berdua.”
Game bukan hanya sekedar sarana penghibur dan kesenangan bagi anak, lebih dari itu, game juga merupakan sarana yang efektif untuk mengembangkan perilaku dan mengembangkan kepribadian melalui berbagai aspek sebagai berikut:
Untuk aspek jasmani, game sebagai aktivitas gerak berperan penting dalam kehidupan anak untuk mengembangkan otot-otot tubuh, memperkuat tubuh, menambah energi pada anak untuk membentuk tubuh dan melalui bermain seorang anak dapat mewujudkan kepaduan antara fungsi-fungsi gerak tubuh, emosi, dan rasionalitas.
Untuk aspek intelektual, game yang imajinatif dapat mengembangkan daya imajinasi anak, memfokuskan konsentrasi, pengambilan keputusan, simpulan, kehati-hatian, bersiap menghadapi sesuatu yang datang tiba-tiba dan menemukan alternative untuk beberapa asumsi. Selain itu game  juga dapat menemukan anak-anak yang bertalenta dan kreatif melalui jenis atau tingkatan  game yang mereka gemar mainkan
Melalui aspek sosial, anak belajar mengenai sistem peraturan, percaya dengan spirit kebersamaan dan menghormatinya, menyadari nilai bersama dan kemaslahatan, menjalin hubungan-hubungan yang baik dan seimbang dengan orang lain, belajar bagaimana menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam wilayah kerja bersama dan melepaskan diri dari sentralisasi pada diri sendiri.
Aspek etika dan moral, dimana melalui game, anak dapat belajar dari orang yang lebih tua mengenai standardisai perilaku etis seperti bersikap jujur, amanah, menahan diri, dan sabar bahkan sedekah dan infaq melalui ajakan orang tua untuk mensedekahkan mainan lama atau baru.
Aspek edukasi juga didukung oleh game jika game yang diberikan dapat diarahkan dengan baik untuk pendidikan. Melalui game perkembangan kepribadian dapat diringkas sebagai berikut: tumbuhnya kemampuan merespon pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada anak-anak dan membentuk kalimat-kalimat lengkap serta bisa mengungkapkan secara langsung apa yang ada dalam pikiran mereka; tumbuhnya kemampuan menjalin relasi persahabatan dan kasih sayang dengan anak-anak dan orang dewasa yang tidak mereka kenal sebelumnya; Perilaku sosial yang matang dalam hubungannya dengan anak-anak lain; rajin menyelesaikan pekerjaan dan kewajiban-kewajiban lain dengan tepat dan dalam waktu yang ditentukan; bertambahnya perbendaharaan bahasa dan kemampuan mengungkapkan tema-tema tertentu.

Reviewed by: Jayanti

0 komentar: