Minggu, 19 Agustus 2018

Sabtu Bersama Bapak


Ibu Itje membuka sebuah lemari. Di dalamnya tersusun rapi ratusan kaset video, lengkap dengan indeks nomor dan topik. Ibu Itje menyalakan video player dan memutar kaset pertama. Ia pun duduk di lantai bersama Satya dan Saka yang mulai berhenti menangis. “Hai Satya! Hai Saka!” tampak dalam video Bapak melambaikan tangan. Saka dan Satya pun tersenyum. Bagi Ibu Itje inilah senyum pertama kedua anaknya sejak Bapak meninggal (p.4)

Begitulah buku ini berkisah tentang ibu Itje yang berjuang sebagai single fighter, Satya yang berjuang menjadi ayah dan suami yang lebih sabar lagi, Saka atau Cakra yang berjuang untuk mendapatkan cinta (istri). Dan tentu saja “Bapak” Gunawan Garnida yang selalu hadir dalam setiap moment penting dalam perjalanan hidup mereka. Hadir melalui rekaman video.

Secara tidak langsung penulis mengajarkan kepada kita, para calon Bapak terutama, bahwa dalam mendidik anak butuh sebuah perencanaan yang dibangun bersama antara suami dan istri. Dalam pernikahan butuh pasangan yang saling menguatkan bukan pasangan yang saling mengisi kelemahan sebab kerasnya hidup hanya dapat dilalui oleh orang-orang yang kuat. Setiap orang pasti punya kelemahan, namun kitalah yang harus mengatasi kelemahan itu. Bukan pasangan kita. Sebab menjadi pribadi yang lebih baik adalah tanggungjawab kita pribadi bukan tanggungjawab orang lain. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubahnya”

Bayangkan seandainya Allah berikan kita rejeki sakit dan divonis usia tinggal 1 tahun lagi padahal ada anak-anak kecil yang ditinggalkan. Penulis melalui “Bapak” mengajarkan kita bagaimana mengoptimalkan waktu 1 tahun itu untuk meninggalkan jejak terbaik untuk membangun kekuatan karakter anak-anak dan istrinya. Seperti kata Bapak bahwa planning is everything. “Bapak selalu punya rencana untuk kita semua. Bahkan dengan kanker itupun Bapak tetap punya rencana. Rencanakan untuk kalian sendiri. Rencanakan untuk anak-anak kalian. Semoga cerita ini pun membuat kalian punya rencana lebih baik untuk anak-anak kalian” (p.21)

“Zaman orang tua kita negara masih membangun pekerjaan. Zaman kita orang mencari pekerjaan. Zaman anak kita nanti gak kebayang bagaimana ketatnya persaingan mereka dalam bekerja. Setelah mereka mandiri nanti belum tentu mereka bisa menolong diri mereka sendiri apalagi menolong kamu (istrinya-ibu Itje) maka saya siapkan untuk kamu juga (usaha). Waktu dulu kita jadi anak kita gak nyusahin orang tua, nanti kita sudah tua kita gak nyusahin anak.” (p.88) Dan begitulah ibu Itje selalu berusaha untuk tidak merepotkan kedua anaknya pun saat divonis kanker payudara serta menjalani kemoterapi dan operasi dengan diam-diam.

Tidak semua anak diberikan rejeki orang tua yang panjang umur sehingga bisa merasakan hangatnya kebersamaan keluarga. Atau mungkin tidak semua anak diberikan orang tua yang pandai memberikan nasihat yang mampu membentuk karakter anak-anaknya hingga dewasa. Buku ini mengingatkan saya akan perjuangan almarhum bapak saya dulu dalam membangun keluarga dari nol hingga kini. Banyak hal di buku ini yang telah membuka rekaman ingatan masa lalu bersama bapak.

Buku ini ringan namun berbobot, banyak menyajikan kisah-kisah keseharian yang umum dalam rumah tangga, mendidik anak, dan ujian hidup menjomblo. Lucu, gokil, gemes, sedih, terharu. Ada banyak halaman yang membuat saya tertawa terpingkal, tersenyum geli, tersenyum kecut, dan murung karena merasa sedih. Berdasarkan testimoni dari beberapa teman yang membaca buku ini, sungguh buku ini mampu membuat pembacanya mampu menghidupkan berbagai perasaaan dan sarat makna. Top lah untuk mengisi malam Minggu yang masih kelabu.

Judul Buku      : Sabtu Bersama Bapak
Penulis             : Aditya Mulya
Penerbit           : Gagas Media
Tahun Terbit    : 2014
Halaman          : 277


Bandung, 19 Oktober 2017
-Tri Hanifawati-




0 komentar: