Minggu, 19 Agustus 2018

English: Sebuah Novel


Sebagaimana tokoh utama cerita tertarik pada pelajaran bahasa Inggris, novel berjudul English ini membuat saya terpanggil untuk membacanya. Sama-sama orang Asia yang ingin sekali mahir berbahasa Inggris dan saya menjadi antusias. Apalagi setting novel ini di Xinjiang, wilayah terpencil di barat laut Cina yang pada masa itu sedang terjadinya Revolusi Budaya. Revolusi yang tidak boleh ada perbedaan sama sekali, baik pendapat, status, maupun gaya hidup dan harus mendukung pemerintahan komunis tanpa terkecuali.

Dikisahkan bahwa Love Liu, seorang anak laki-laki usia SMP yang amat tergila-gila pada kecantikan guru bahasa Uyghur di sekolahnya, Ahjitai. Ia dan kawan-kawannya sebenarnya tidak tertarik untuk belajar bahasa Cina, apalagi Uyghur tetapi Ahjitai adalah satu-satunya tujuan mereka sekaligus bahan imajinasi nakal masa pubertas. Berbeda dengan rombongan Love Liu, anak-anak perempuan ingin sekali Ahjitai segera pergi sehingga pelajaran baru (bahasa Inggris) segera menggantikan bahasa Uyghur. Sebenarnya, belajar bahasa Inggris pada masa itu adalah tabu dan harus dilakukan sembunyi-sembunyi.

Lantas, Ahjitai pun keluar sebagai dampak dari kebijakan baru sekolah. Kemudian datanglah Second Prize Wang, pemuda dari Shanghai-jangkung, elegan, mengepit kamus bagasa Inggris, yang kemudian menyukai Ahjitai. Semua anak perempuan berebutan ingin jadi perwakilan kelas yang setia mengambil dan mengantarkan gramofon saat pelajaran listening. Sunrise Huang yang cantik dan berbakat lah yang beruntung. Jadi, kepergian Ahjitai ditangisi anak laki-laki sedangkan kedatangan Second Prize Wang disambut gembira oleh anak perempuan. Oke, ini memang natural sih.

Love Liu sangat penasaran pada kamus yang dibawa Wang karena ia tahu buku itu hanya satu-satunya di Urumchi. Sayangnya, Wang tidak dengan mudah meminjamkannya kepada Liu. Dengan berbagai siasat, Liu berusaha merebut perhatian Wang yang semula tercurahkan pada Sunrise Huang dan anak perempuan lainnya. Liu berhasil merebut posisi perwakilan kelas sehingga bisa leluasa main ke kamar Wang di kompleks sekolah. Semakin dekat Liu pada Wang, tidak hanya membuatnya mudah membaca kamus tetapi juga belajar bagaimana menjadi pria terhormat ala guru Wang.

Tantangan kehidupan bagi anak-anak di dalam novel ini sangat berat. Meraka belajar sembari dicurigai anti revolusi apabila ada indikasi perbedaan pendapat. Sunrise Huang sekadar menuliskan kata-kata iseng di pintu kamar mandi yang menyindir penguasa tertinggi Cina, pemimpin Mao, bisa mendapatkan ancaman hukuman penjara sekaligus kerja paksa. Untungnya, kepala sekolah yang sebenarnya sudah muak dengan pemerintahnya sendiri, bisa menyelamatkan Sunrise Huang. Remaja perempuan yang baru saja kehilangan ayahnya akibat bunuh diri itu, menuliskan berulang kali sebagai tanda penyesalan: “kita anak-anak baik tumbuh di bawah bendera merah komunisme dan tidak seharusnya berpikir tentang hal semacam itu di usia yang begitu muda.”

Kisah lainnya dalam novel ini mengenai intrik politik di kalangan orang dewasa. Akademisi berbakat harus tunduk pada kemauan pemimpin Mao dan Tentara Merah meskipun apa yang mereka lakukan menyalahi nilai kemanusiaan. Bagi yang tahan, nilai kemanusiaan mereka akan hilang. Namun, lebih banyak yang tidak tahan sehingga dibunuhi oleh Tentara Merah ataupun memilih bunuh diri. Di masa itu, bentuk-bentuk penghabisan nyawa seseorang sangat luar biasa kejamnya karena didahului dengan penyiksaan.

Bagaimanapun kelamnya zaman itu, novel yang hak ciptanya telah terjual di seluruh dunia ini mengisahkan kisah menjadi dewasa. Love Liu dan remaja lainnya menempuh cara-cara yang terkadang membuat saya terharu maupun bergidik ketika membacanya. Mau tahu apa saja yang mereka alami? Apakah cinta Second Prize Wang dibalas Ahjitai? Lantas bagaimana nasib Second Prize Wang dan Sunrise Huang yang kabarnya anti revolusi? Silakan baca sendiri novel yang cukup lawas ini. Setidaknya, dari novel ini saya menjadi bisa lebih menghargai nilai-nilai ketuhanan karena kisah kehidupan dalam novel ini salah satu contoh antitesis keagamaan. Tanpa agama, manusia akan hidup semaunya dan menimbulkan penderitaan lahir dan batin. [NT]

Judul Buku      : English
Penulis        : Wang Gang
Penerbit      : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Thn Terbit   : 2013
Jmlh Hlm    : 426

- Novi Trilisiana -

0 komentar: