Minggu, 26 Agustus 2018

Merajut Tenun Kebangsaan


Lisan demi lisan Anies Baswedan demikian terususun rapi dan berisi. Seseorang dengan kesantunan bicara dan keluasan isi pembicaraannya, membuat saya menerka pasti beliau memiliki daya baca yang kuat. Kalau sudah punya daya baca yang kuat, kemungkinan kalau ia menulis pasti berbobot baik. Setelah saya dapatkan buku kumpulan pemikiran yang ditulis langsung oleh Anies, barulah kesimpulan saya terbukti benar. Bahkan ekspektasi saya terlampaui. Anies Baswedan ini cerdas lahir batin.

Buku Merajut Tenun Kebangsaan seperti bunga rampai yang berisi refleksi soal kepemimpinan, demokrasi, dan pendidikan. Kebanyakan tulisannya merupakan tulisan yang sudah pernah terbit di berbagai surat kabar nasional. Tulisan terlawasnya terlacak pernah dimuat di Kompas tahun 2003. Dinamisasi pemikiran seorang Anies Baswedan mentransformasikan kegelisahan menjadi keberanian dan keprihatinan menjadi kekuatan. Gagasanannya tak sekadar permukaan. Juga tak sekadar kritis tapi kreatif.

Menyoal Kepemimpinan, ia membuat suatu perbedaan antara pemimpin dan pemimpi. Bedanya terletak pada huruf “N” yang berarti Nyali.
“Pemimpin pada dasarnya adalah pemimpi. Pemimpi yang mimpi-mimpinya dipercaya dan diikuti. Pemimpi yang mampu mengubah mimpi jadi nyata bisa disebut sebagai pemimpin. Wajar jika pemimpin menitipkan mimpinya pada imajinasi, dan membiarkan imajinasinya itu terbang amat tinggi, lalu dia bekerja amat cerdas dan keras menggerakkan seluruh daya yang tersedia untuk meraih dan melampaui mimpinya. Di sinilah sebuah huruf “N” sebenarnya itu mewakili komponen amat kompleks menyangkut kemampuan meraih mimpi dan melampaui mimpi (h.61).” Apabila ada nyali mewujudkan mimpi, bisa disebut sebagai pemimpin.

Ada lagi pemikiran yang beda antara kepemimpinan dan kepengikutan. Leadership and followership. Dulu, saya pernah mendengar kuliah umum Prof. Badri Munir Sukoco, ahli ilmu manajemen dari Universitas Airlangga. Ia mengatakan bahwa orang Indonesia itu masih saja lebih senang meneliti leadership tapi mengabaikan potensi followership. Padahal tema-tema followership belum banyak digarap secara mendalam dan kalau mau diteliti bisa menjadi sajian perspektif baru bagi masyarakat.

Dalam bab Krisis Followerships, Anies menyoroti bahwa masyarakat kita masih terkena sindrom meraih tampuk kepemimpinan yang kalau gagal, akan ada upaya tidak terima untuk dipimpin. Mestinya, kalimat operasional ‘meraih tampuk kepemimpinan’ diubah menjadi ‘menjalankan followership’. Sebab, ‘menjalankan followership’ adalah mengalahkannafsu berkuasa yang ada dalam diri sendiri. “Dengan followership, yang dipimpin mengakui keberadaan pemimpin terpilih dan bekerja bersama secara kritis dan rasional (h.49).”

Selanjutnya, merawat tenun kebangsaan dapat melalui ranah pendidikan. Melalui pendidikan, Anies menuliskan gagasannya dalam bab Melunasi Janji Kemerdekaan, Merekayasa Masa Depan Indonesia, Menggerakkan Semesta Melawan Korupsi, hingga Pancasila Pengikat Tenun Kebangsaan. Di bab lainnya, disoroti pula idealisme guru yang didamba sebagai garda depan Indonesia.

Buku ini mudah sekali dicerna karena sajian tulisannya populer. Pembaca dimudahkan mengambil poin penting dalam setiap bab karena ada kotak yang mengulang kalimat yang dianggap penting sebagai inti poin. Saya rekomendasikan Anda membaca buku ini untuk menambah wawasan kebangsaan. [NT]

Judul Buku  : Merawat Tenun Kebangsaan
Penulis        : Anies Baswedan
Penerbit      : Serambi, Jakarta
Cetakan      : 1 Februari 2015
Jml Hal       : 251

-          - Novi Trilisiana -

0 komentar: