Minggu, 26 Agustus 2018

Antara Cinta & Ridha Ummi


Terkisahlah seorang wanita paruh baya yang memiliki tujuh orang anak. Ummi Aminah, demikian wanita tersebut dikenal baik oleh keluarga dan khalayak masyarakat. Seorang ustadzah yang sering muncul di stasiun televisi nasional dan diundang mengisi ceramah di berbagai tempat di Indonesia. Ummi Aminah memiliki perkataan yang indah karena selalu menyampaikan Al-Quran dan Al-Hadits dalam dakwahnya. Hanya saja, kemudahan menyampaikan kalamullah tak serta merta memuluskan langkah Ummi dan keluarga dalam mengamalkannya. Sabar, misalnya.

Sebab iman tidak sekedar ucapan tetapi membutuhkan pembuktian. Lewat duka dan bahagia, iman digoda. Beruntung bagi siapa saja yang lolos dari godaan iman sehingga naiklah level imannya. Akan tetapi merugi sekali bagi mereka yang tergoda sehingga iman yang mulia menjadi terjerembab ke dalam jurang kekufuran. Begitulah Asma Nadia mengemas kisah Ummi dan keluarganya. Tiap anggota keluarga memiliki kisah yang saling terkait dan tertuang ke dalam catatan hati masing-masing.

Kisah dibuka dengan suatu kejadian di pelataran masjid pada sore hari. Seorang pemuda sekaligus putra yang dicintai Ummi mendadak diseret polisi di depan matanya saat sedang mengisi ceramah. Belum juga ceramah ditutup, hampir pula pingsan, Ummi Aminah bersama kedua putrinya meninggalkan masjid dengan taxi untuk menyusul putra paling sholihnya. Cuplikan kisah pembuka ini menyisakan rasa penasaran karena kisah dikemas dengan alur flash back.

Sebelum kejadian yang menjadi klimaks cerita, dibukakan cerita-cerita yang menggambarkan karakter sekaligus kisah yang melekat pada tiap tokoh cerita. Ada catatan hati Zubaidah, anak gadis Ummi yang berbadan gemuk, sedikit telmi, dan genit. Zubaidah memiliki masalah seputar penampilan dan hubungannya dengan pria. Satu-satunya yang ia banggakan adalah tampangnya yang manis dan rambut yang indah. Ia sesungguhnya lebih suka tidak pakai jilbab tetapi Ummi sabar membimbingnya terus: “Dengan berjilbab, kamu menyeleksi lelaki yang akan mendampingimu nanti”. Zubaidah lantas insyaf bahwa keadaannya mesti disyukuri bahwa ia masih punya alat indera yang berfungsi dengan baik.

Ada catatan hati Aisyah, kakak Zubaidah meskipun beda ayah. Aisyah yang penyabar, penurut, dan qanaah ini menjadi model keluarga yang harmonis dan sederhana bersama Hasan, suaminya. Kisah Aisyah dan suaminya membuat pembaca belajar bahwa kesabaran dan kesyukuran adalah buah yang manis dari iman. Kesabaran Aisyah menjadi teruji ketika istri Umar, abang seayah dengannya sulit untuk didekati. Risma yang telah dinikahi Umar lebih dari dua belas tahun itu, berambut ikal dan cantik, sulit berkompromi jika ada keluarga dari suaminya yang hendak meminjam uang. Padahal janji melunasi tepat waktu selalu ditepati.

Ada catatan hati Zarika yang membuat saya terenyuh membacanya. Barangkali perjuangannya untuk menikah menjadi pelajaran berharga para singlelillah. Rika, demikian Ummi memanggilnya adalah gadis berjilbab modis, tinggi semampai, cerdas, dan berdedikasi kinerja. Rika adalah kakak Zubaidah yang paling cantik. Jatuh bangun ia ingin mewujudkan citanya dan cita ummi agar menikah dengan pria baik agamanya, tidak merokok, dan bertanggung jawab. Tiap kali cinta hadir, Rika selalu enggan membukanya pada keluarga. Cinta yang datang sering kali tidak memenuhi kriteria. Susah payah Rika berdamai pada dirinya dengan menggeser batas idealitas. Tetapi Ummi tidak meridhai. Jika harus memilih, cinta atau ridha Ummi? Itulah pertanyaan yang menyeruak dalam benak Rika tiap kali ia menjumpai sisi negatif cintanya.

Pria yang memberikan cinta pada Rika senantiasa tidak dalam keridhaan Ummi. Mereka di antaranya: Baik tapi mudah tergoda wanita lain; supel tapi perokok; tidak merokok dan cerdas tapi tidak seakidah; perhatian tapi sudah menikah. Dari pria yang menyita perhatian Rika, menjadi ujian baginya sekaligus Ummi.

Jika sebagian orang tua masih memandang tingkat pendidikan, besarnya gaji, posisi di pekerjaan atau keturunan keluarga terpandang, penilaian-penilaian itu sudah lama hilang dari pikiran Ummi dan Abah (hlm. 193). Satu pesan Ummi kepada Rika adalah jangan pernah menikah dengan yang beda akidah dan mengganggu rumah tangga orang lain. Konflik kisah Rika  seakan membuka luka Ummi yang berupaya Ummi sembuhkan. Apakah luka Ummi selama ini? Siapa yang akan menikah dengan Rika di usianya yang sudah matang?

Ada lagi catatan hati Zainal yang lurus pemikiran dan hatinya tetapi mendapat ujian berat saat istrinya hamil besar anak kedua. Zainal yang periang dan berakhlah sholih harus ditangkap polisi. Ummi Aminah tengah diuji untuk memilih: percaya pada perkataan anaknya atau pada kejadian yang dilihatnya. Kasus Zainal yang mengagetkan Ummi belum seberapa dengan ujian kesabaran memiliki Zidan yang banci dan berorientasi seksual menyimpang. Pemuda ini bahkan tidak mendapat tegur sapa dari abah kandungnya.

Ada lagi catatan hati Umar, anak tertua Ummi yang sukses finansial dan peduli pada keluarga. Umar diuji dengan keberadaan istrinya yang hampir 180 derajat berbeda dengan karakter Umar. Selain Umar, ada catatan hati Ziah, anak paling bungsu yang cerdas dan selalu menemani Ummi ceramah dari satu tempat ke tempat lain. Ziah adalah wanita yang kritis dan tidak banyak membuat ulah dalam keluarga sehingga konflik cerita tidak banyak mengupas kisah Ziah. Hanya saja, karakter Ziah yang teguh melanjutkan studinya membuat ia mendapatkan beasiswa magister. Terakhir adalah catatan Abah, suami kedua Ummi yang mengayomi dan sayang pada anak-anaknya meskipun anak tiri sekalipun. Abah hanya bersikap dingin pada Zidan yang tidak mengindahkan nasihatnya agar mau bersabar dari ujian Allah untuk meninggalkan rasa sukanya pada sesama jenis.

Bagi Ummi dan Abah, anak-anak adalah titipan berupa rizki sekaligus ujian. Walaupun berbagai ujian datang silih berganti, langkah mereka seirama dan saling menopang. Kalau bukan karena kesamaan visi di atas keimanan pada Islam, sulit untuk lolos dalam ujian kehidupan. Sebab, bagi orang beriman ujian ibarat cinta-Nya yang sesaat saja tersembunyi. Pada akhirnya, buku ini memberikan penyelesaian yang membahagiakan. Setiap tokoh memiliki titik balik untuk menyadari kekeliruan dan menatap masa depan.

Selain kisah Ummi Aminah, ada juga cerita pendek Laras dan ibunya yang memiliki konflik cerita mirip dengan Zarika: Antara cinta dan ridha Ummi. Saya kemudian menduga-duga boleh jadi pemuda-pemudi yang sudah berumur tapi belum menikah bukan karena belum mampu menikah ataupun memiliki orientasi seksual menyimpang. Boleh jadi karena ridha ummi belum didapatkan. Ternyata tidak sesederhana nyinyiran kita yah. Astaghfirullahaladzim (kerja lembur bagai quda [mode:on])

Tema tentang ibu menjadikan daya tarik yang tak lekang oleh zaman. Kalau saja buku ini dibuat lebih panjang lagi sehingga lebih tebal, saya yakin pembaca akan setia membaca hingga akhir. Seperti novel-novel Asma Nadia yang terdahulu, akhir cerita selalu happy ending dan itu membuat sebagian besar pembaca puas. Terakhir, ini bacaan ringan yang sarat makna.

Penulis        : Asma Nadia
Penerbit      : AsmaNadia Publishing House
Thn Terbit   : 2017 (Cetakan ke-4)
Jml Hal       : xii+235

-            – Novi Trilisiana

0 komentar: