Minggu, 26 Agustus 2018

The Art of Thinking Clearly


When you think clearly, you don’t confused about something. Buku ini mengarahkan agar pembaca mampu melihat, mendengar, membaca, dan memahami sesuatu dengan benar. Sebagai pengantar penulis berpendapat bahwa secara tidak sadar banyak orang yang mengambil keputusan atas hal-hal mendasar yang bias. Sebenarnya hal yang dianggap bias ini tidak begitu berbahaya, namun jika ini menjadi mindset dalam setiap pengambilan keputusan akan berbahaya juga.

Buku ini terdiri dari 99 chapter, menjelaskan 99 pemikiran keliru yang umumnya dipercayai orang-orang. Setiap chapter related dengan beberapa chapter lain untuk memperkuat topik tersebut. Pada setiap chapter diceritakan short story dari kasus-kasus yang terjadi atas pemikiran keliru tersebut. Di setiap akhir chapter terdapat kesimpulan dan saran dari penulis, bagaimana seharusnya cara berfikir yang benar atas pikiran keliru tersebut. Gaya bahasanya santai, sangat aplikatif karena kasus yang diceritakan adalah hal-hal yang umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam beberapa kasus perlu disaring, karena yah saran-saran pada buku ini sifatnya pribadi. Sudut pandangnya bisa jadi subyektifitas penulis.

Saya berikan dua contoh. Pada chapter 2 (p.8-10), topik does harvard make you smarter? Ada satu pikiran keliru yang disebut swimmer’s body illusion. Perempuan misalnya banyak yang terjebak ilusi, percaya kosmetik akan membuat mereka lebih cantik karena melihat model iklan kosmetik tersebut cantik. Padahal bisa jadi bukan kosmetik yang membuat model iklan itu cantik tapi karena dasarnya si modelsudah cantik. Sama halnya dengan harvard, lulusannya bisa lebih pintar bisa jadi bukan karena harvardnya tapi karena umumnya saat penjaringan yang dipilih lulusan SMA terbaik yang mana sudah pintar. Kesimpulannya jangan terjebak pada ilusi. Seseorang berhasil dalam study, bahagia, berhasil dalam hidup karena mereka berpositif thinking dalam semua hal itu even mereka tidak belajar di sekolah favorit, mereka punya banyak masalah, dsb. Artinya keberhasilan kita tidak dapat diukur dengan keberhasilan orang lain.

Chapter 16 (p.51-52) don’t take news anchor seriously. Apakah sering nonton atau baca berita dan sering percaya terhadap prediksi/ramalan para pakar di media tersebut? Chapter ini cocok untuk dibaca. Ada dua tipe knowledge, real knowledge yakni orang-orang yang menghabiskan waktu dan usaha lebih untuk memahami sesuatu, sering disebut expert. Dan chauffeur knowledge, knowledge mereka bukan milik mereka sendiri tetapi dari apa yang dipelajari orang lain. Sederhananya copy paste dari apa yang sudah ditulis dan dipelajari orang lain. Jurnalis kata penulis, sebagian besar masuk tipe chauffeur knowledge, meski ada sedikit yang tipe real knowledge. Penulis menyarankan untuk tidak bingung dengan dua tipe ini dan berhati-hati terhadap chauffeur knowledge. Ada clear indikator yang sangat membedakan keduanya. Expert sejati (real knowledge), mereka sangat tahu batas kemampuannya. Jika mereka menemukan suatu kasus yang tidak sesuai kompetensinya mereka cukup dengan diam atau bilang “tidak tahu.” Sedang chauffeur knowledge sebalinya. Nah jadi kita bisa lebih cermat apa yang harus kita percayai dari media atau yang dikatakan orang-orang.

Judul Buku      : The Art of Thinking Clearly
Penulis             : Rolf Dobelli
Penerbit           : Sceptre
Tahun Terbit    : 2013
Jumlah Hal      : 326
ISBN               : 978 1 444 75954 9

-          - Tri Hanifawati -

0 komentar: