Minggu, 19 Agustus 2018

Ayahku (Bukan) Pembohong


Bismillah, kali pertama saya membaca karya Tere-Liye  (Dan semua itu gegara sahabat IM, lagi dan lagi). Tinta yang ditorehkan di novel ini sangat sarat makna. Sebagai perkenalan saya membaca karyanya yang berjudul Ayahku (Bukan) Pembohong. Dan, surprise…banyak kata-kata bijak yang digambarkan dalam diri seorang ayah.

Dalam perjalanan (cerita)nya seolah menimbulkan dua pertanyaan intim baik dibenak saya sebagai penikmat cerita maupun dibenak si Dam. Kenapa dan mengapa, itulah pertanyaan yang mengusik kami. Pada awalnya, kami menikmati tiap ceritanya (ayah). Namun, lambat laun kenikmatan itu berubah jadi kejemuan. Apa iya, apa iya semua yang diceritakannya bukan sekedar bualan semata? tapi mengapa kian kami beranjak mengerti (terkhusus Dam yang mulai dewasa) hal yang semestinya kian percaya, justru berbalik menjadi kesal dan marah.

Kemarahan serta kekesalan itu diperkuat setelah dua pertanyaan intim itu mengusik Dam. Padahal dimasa kecilnya (Dam), ia berhasil mengusir ketakutannya terhadap air dan (terutama) terhadap bully teman sekolahnya dengan dibuktikannya sebagai atlet professional renang. Perang batin tersebut sungguh tidak mudah tuk dienyahkan dengan begitu saja kalau tidak oleh suatu hal yang berperan hingga berpengaruh pada mental dan karakternya. Dan semua itu berkat cerita bijak sang ayah.

Dua sikap diatas semakin menjadi-jadi kala ibunya meninggal dunia karena mengidap penyakit. Justru sikap ayah seolah acuh tak acuh melihat kondisi sang ibu hingga ajal menjemput. Dan puncaknya saat dimana kebersamaan dengan kedua buah hati Dam yang seperti mengulang memorinya dimasa kecil. Dengan begitu menikmati cerita sang kakek, kedua buah hatinya sampai hati mengelak kedisiplinan rumah yang telah diterapkan Dam. Seolah kemarahannya (Dam) mewakili perasaan batinnya yang selama bertahun-tahun ia pendam terutama terkait dua pertanyaan itu, kenapa dan mengapa.

Jreng jreng jreng….

Dan semua seperti membuka tabir, kala ayahnya pergi dari kediaman Dam hingga ia (sang ayah) terbujur kaku dalam pusara makam sang isteri, ibu Dam.

Kelimpang, kelimpung hati dan pikiran Dam, semua yang berkecamuk dalam dirinya selama ini terhadap sang ayah seolah musnah bagai api yang disiram air, padam seketika, oleh penyesalan, oleh kegalauan, oleh nestapa. Terlebih saat diketahui bahwa ada seseorang yang dating pada saat pemakaman sang ayah. Seseorang yang hidup dari cerita sang ayah. Seseorang yang membuka tabir Dam tentang kenapa dan  mengapa. Semua yang disimpan rapat-rapat oleh sang ayah kini Dam ketahui.

Membaca runut cerita ini, kok saya jadi teringat sama kisah perjalanan Nabi Musa ya. Saat sang nabi memutuskan mengikuti seorang bijak untuk pergi berkelana. Namun sebelum mereka memulai perjalanan. Seorang bijak terlebih dulu berpesan kepada nabi. Selama dalam perjalanan anda tidak boleh mengajukan pertanyaan sebelum saya jelaskan tentang apa yang saya perbuat.

Namun, seolah nabi lupa ketika seorang bijak melubangi perahu nelayan dengan sengaja. Maka nabi Musa bertanya, mengapa anda melubangi perahunya, jadinya rusak kan?. Lalu seorang bijak berkata, bukankah sudah saya katakan, bahwa anda tidak boleh bertanya sebelum saya jelaskan. Sampai dua perbuatan seorang bijak lakukan, sang nabi tetap bertanya dengan pertanyaan yang sama, kenapa. Dan tibalah pada akhir perjalanan seorang bijak menceritakan semuanya, alas an kenapa ia berbuat demikian. Maka nabi Musa pun menyadari kekeliruannya selama perjalanan pada seorang bijak itu.

Itupula yang dirasakan oleh Dam, ia menyadari bahwa Ayahku (Bukan) Pembohong.

Beberapa kalimat sengaja saya kutip, di bawah ini.

 “Lembah itu adalah bukti proses panjang, saling menghargai manusia dan alam, pemahaman yang baik, penguasaan ilmu pengetahuan serta kebijakan luhur manusia.” H.137

“Seratus tahun silam, adalah Alim Khan, kakek Ali Khan, emir Bukhara yang menjadi tetua lembah. Di tangan Alim Khan-lah harapan tersisa. Pemimpin yang baru dua puluh tahun, pulang dari menuntut ilmu di negeri seberang, harus mendapati lembah kelahirannya hancur lebur. Tidak ada kata menyerah dalam kamus kehidupan Alim Khan. Dia yakin, siapa yang terus berjuang mengubah nasib, maka alam semesta akan mengirimkan bantuan, terlihat ataupun tidak terlihat.” H.138

“Kau tahu, Dam, mereka hanya punya satu pohon di seluruh lembah, dan apel itu hanya berbuah sepuluh tahun sekali. Mengunyah apel itu tidak hanya membuat kenyang, tapi memberikan sensasi tentram dan pemahaman baik di hati. Mengunyah apel itu tentu saja tidak membuat kau berumur panjang, tapi bias melapangkan hati yang sempit dan menjernihkan pikiran yang kotor. Itulah apel emas Lembah Bukhara.” H.140-141

“Teruskan kek, teruskan” Zas dan Qon berteriak tidak sabar. H. 153. Perasaan itu jua yang saya rasa teruskan ayo teruskan membaca. Pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di dada hingga saya penasaran dibuatnya dan ingin segera menyudahi rasa penasaran ini dengan menuntaskan membaca.

“Mereka bukan suku pengecut, Dam. Mereka tidak takut mati demi membela kehormatan, tetapi buat apa? Suku penguasa angin terlalu bijak untuk melawan kekerasan dengan kekerasan. Membalas penghinaan dengan penghinaan. Leluhur Tutekong memutuskan akan menjaga kebijakan hidup mereka selama mungkin. Mendidik anak-anak mereka untuk mencintai alam, hidup bersahaja.” H. 157

Kalimat itu bak falsafah hidup bagi manusia yang harus menyikapi bumi dan alam tentang bagaimana seharusnya sikap manusia terhadap alam. Seperti rasa benci. Ya Rasa benci tidak harus berubah menjadi perlawanan. Rasa benci yang justru menjadi semangat, menjadi keyakinan bahwa mereka akan bertahan lebih lama dibandingkan keserakahan, rasa tamak dan bengis manusia terhadap alam. Hari ketika semesta alam berpihak pada kesabaran dan keteguhan. H. 159

Kami tidak mendidik kalian sekedar mendapatkan nilai di atas kertas. Tetapi juga dalam keseharian, dan itulah proses pendidikan itu sendiri. H. 241

Hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat. H. 242

Menurut saya, ini bentuk dari sebuah kepasrahan kepada Sang Khalik. Namun arti pasrah ini tidak dinisbatkan pada sesuatu karena tak bernyali, atau dalam arti menyerah. Bukan, bukan seperti itu, tapi pasrah di sini memiliki makna yang berbeda. Makna yang dahsyat bagi jiwa yang tetap berusaha dan disamping usahanya tersebut ia berpasrah diri kepada Sang Khalik karena ia tahu bahwa kekuatan itu ada pada bentuk kepasrahan kepada Sang Khalik.

Judul                            : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis                         : Tere-Liye
Penerbit, th. Terbit       : PT. Gramedia, cet. 2, 2011
Hal                               : 299 hal.
ISBN                            : 978-979-22-6905-5

Isaimamiqi

0 komentar: