Minggu, 26 Agustus 2018

Backpacking Hemat ke Australia


Sebenarnya buku ini sudah saya selesaikan sebelum bulan Ramadhan tapi belum disempat-sempatkan untuk menuliskan resumenya, padahal niatnya sebelum Ramadhan bisa posting 2 resume eh malah jadinya nambah 2 utang – maapkeun. Jika ada salah satu atau dua member disini yang pernah mendengar grup di Facebook bernama Backpacker Dunia atau biasa disingkat BD, maka mungkin kalian tidak asing lagi dengan penulis buku ini, ya mbak Elok Dyah Messwati adalah founder dari grup BD dengan member ratusan ribu orang dan kemudian dibuatkan grup grup regional di tiap provinsi di Indonesia. Sedikit menceritakan tentang BD, grup ini merupakan grup sharing terkait kegiatan traveling alias jalan-jalan mandiri yang biasanya identik dengan backpack di punggung dan budget yang minim maupun strategi untuk menjalankannya hampir diseluruh negara di dunia. Membernya adalah orang Indonesia dan tujuan travelingnya adalah luar negeri saja. Sedangkan buku ini – sesuai yang tertulis di buku – merupakan series dari perjalanan Backpacker Dunia, walaupun secara pribadi saya juga kurang tau series lainnya sudah ada yang baru atau belum.

Nah sekarang, apa yang terlintas dipikiranmu jika mendapat ajakan traveling ke Australia? Saya pribadi langsung terbayang, ngurus visa yang ribet, biaya hidup yang mahal, orang Aussie yang rese dan suka mabuk-mabukan kayak di Bali, dan pikiran negatif lainnya. Tapi teteup yang dominan ya mahalnya itu.

Menjawab pertanyaan tersebut, tanpa menepis anggapan sebagian besar calon dan backpacker Indonesia, penulis merangkum tips untuk para pejalan supaya bisa menghemat biaya perjalanannya di buku ini. Pengalaman ini ia rangkum berdasarkan pengalamannya 3 kali masuk Australia yang detailnya dibahas satu persatu di tiap babnya.

Memiliki hobi jalan-jalan, dituliskan di bukunya bahwa penulis memulai aktivitasnya tersebut sejak usia 13 tahun dan mulai menelusuri tempat-tempat di pulau Jawa dengan cara backpacking alias jalan mandiri dengan ransel di punggungnya. Cerita bagian ini menjadi pembuka di bagian 1 yang berjudul Gila Backpacking.

Gaya penulisan yang santai ditambah dengan pengalaman-pengalaman yang menginspirasi menjadikan buku ini sayang untuk dilewatkan. Apalagi penulis juga tidak menutup-nutupi bahwa tulisan yang ada dibuku ini merupakan materi yang sebelumnya dipost di blog pribadi. Foto-foto yang disisipkan di dalam buku juga menambah imajinasi pembaca untuk ikut menelusuri tempat-tempat yang ditulis dalam buku ini.

Pada bagian ke-dua buku ini, penulis menceritakan pengalamannya saat pertama kali ke Australia untuk urusan pekerjaan yang mengharuskan ia untuk berkunjung ke Sydney dan Canberra. Pada bagian ini, penulis menceritakan kesannya saat pertama kali menginjakkan kaki di Aussie serta tips terkait barang yang boleh dan tidak untuk dibawa ke Aussie namun lebih fokus lagi pada pengalaman kunjungannya terkait pekerjaan yang ia bawa. Biarpun begitu, tempat wisata terkenal di Sydney seperti Opera House, Sydney Harbour, Paddy’s Market, sampai ke Queen Victoria Building tidak luput pada pembahasannya.

Lanjut ke bagian ke-tiga, diceritakan bahwa penulis ingin sekali mengikuti acara yang dihadiri Paus Benedictus di Sydney kala itu. Penulis yang sangat ingin untuk mengikuti kegiatan tersebut akhirnya mengambil cuti dan langsung membeli tiket ke Sydney tanpa mengikuti paket tour yang menawarkan paket serupa, alasannya sangat simple, yakni karena jalan-jalan mandiri akan lebih menghemat budget serta lebih fleksibel terhadap tempat-tempat yang akan dikunjungi. Pada bagian ini, penulis mendapatkan support dari sahabatnya, Fifi yang sedang bekerja disana yang kemudian banyak mengenalkan tempat-tempat baru dan unik di Sydney khususnya.

Penulis yang sepertinya sudah jatuh cinta dengan Aussie, akhirnya menutup buku ini dengan bagian ke-empat yang juga merupakan bagian terseru dan terpanjang untuk diceritakan karena memang paling banyak dibahas di bagian ini tidak hanya Sydney namun juga Perth, Adelaide, Melbourne, Canberra, Sydney – Katoomba, Wolonggong, Brisbane, Gold Coast hingga Australia bagian utara, Darwin. Tidak tanggung-tanggung, penulis mengambil cuti besar selama 1 bulan lamanya untuk menjelajahi setiap destinasi bersama suaminya yang dilakukan secara hemat dengan cara memanfaatkan hospitality exchange dan tinggal bersama orang lokal. Selain itu, apa sajakah cara lain untuk berhemat di Aussie ala penulis dan apa saja destinasi wisata yang didatangi penulis? Apakah biaya hidup di Aussie benar mahal seperti yang menjadi pendapat orang lain selama ini? Temukan sendiri jawabannya di Australia, eh di dalam buku ini dong.

Judul                            : Backpacking Hemat Ke Australia
Tahun Terbit                : 2009
Jumlah Halaman          : 208
Nama Penulis               : Elok Dyah Messwati
Penerbit                       : Backpacker Dunia Publishing

              Balam, 20 Juni 2018
-          Mustika Rizky Amalia -


0 komentar: