Selasa, 21 Agustus 2018

Muhammad Al-Fatih


Ketika mendengar kisah tentang Sang Penakluk Konstantinopel, saya jadi penasaran dan itu terjadi sudah lama, mungkin tiga atau empat tahun ke belakang. Sampai akhirnya saya memiliki kisah tentangnya. Tentang seorang pemuda yang sangat ditakuti oleh para penguasa Eropa di masanya, termasuk Roma. Buku yang ditulis oleh Ustd. Felix Siauw ini setidaknya mengobati rasa penasaran saya, walaupun sebenarnya saya masih ingin mengoleksi buku tentang Muhammad Al-Fatih karya yang lainnya.

Awalnya dia dicemooh, nyinyiran demi nyinyiran datang silih berganti kepadanya. Menapikan kekuatannya karena dianggap bocah kecil oleh sebagian besar penguasa Eropa. Untuk kali pertama ia mengemban tampuk kekuasaan Utsmani (h. 44) (setelah ayahnya wafat Sultan Murad II) diusianya yang masih belia yakni 14 tahun, bahkan dikalangan para menteri Utsmani juga ada beberapa yang meragukan kepemimpinannya. H. 45

Tapi semua itu tidak menciutkan nyali Sang penakluk. Ditangan Syaikh Aaq Syamsuddin ia bermetamorfosa menjadi seorang yang tangguh, seorang yang dewasa di atas usianya. Inspirator utamanya adalah Rosululloh saw. Keyakinan utama mengenai bisyaroh Rosul adalah ketataannya kepada Allah swt., dengan tidak pernah meninggalkan sholat, baik wajib maupun sunnah. Bahkan ia tidak pernah sekalipun ketinggalan sholat berjamaah. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang diriwayatkan oleh HR. Ahmad yang berbunyi: “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan yang menaklukannya”h. 5

Tiap-tiap tugas yang ia tugaskan kepada para ghazi atau prajurit terbaiknya ia lakukan terlebih dahulu. Sehingga para prajuritnya menjadikan ia teladan sekaligus sebagai pembangkit semangat mereka sebagai prajurit pilihan Allah yang telah disabdakan oleh Nabi. Bahkan seorang sejarawan Phillip K. Hitti pernah menulis bahwa “Seseorang akan dianggap gila jika pada tahun ketiga abad ke-7 meramalkan bahwa dalam satu decade kedepan akan muncul satu kekuatan tersembunyi dan tak terduga dari kawasan semenanjung Arab yang akan menghancurkan dua kekuatan dunia saat itu, Sassaniyah (Persia) dan Byzantium (Romawi). Namun, itulah sebenarnya yang terjadi. Setelah Nabi wafat, semenanjung Arab yang gersang itu tampaknya telah berubah, seperti terkena sihir, menjadi tempat kelahiran para ksatria yang jumlah dan kualitasnya sulit ditemukan di tempat lain.” H. 104

Terlepas dari penyesatan yang telah dilakukan kaum orientalis tentang stigma sejarah Islam, namun fakta sejarah lah yang berbicara. Bahkan setelah penaklukan kaum muslim terhadap daerah-daerah kekuasaan membuat daerah tersebut menjadi kian makmur dan sejahtera terlebih bebas dalam melaksanakan praktik keagaamannya masing-masing tanpa ada paksaan dari pihak muslim. Konstantinopel contohnya, selain menjadi Negara adikuasa dimasanya Negara tersebut juga menjadi pusat perdagangan terbesar. H. 104

Pada abad ke-15, pasukan Utsmani dapat dianggap sebagai pasukan paling modern dan terorganisir. H. 109 mengapa dikatakan paling modern di masanya? Karena strategi-strategi yang mumpuni yang belum pernah diterapkan oleh kekaisaran manapun saat itu sehingga wajar saja jika program kesultanan Utsmani sampai saat ini menjadi penyokong ide terbesar secara langsung maupun tidak dalam arti mengakui ataupun tidak bahwa ide brilliant itu bersumber dari kesultanan Utsmani terkhusus pada masa Al-Fatih. Memang seperti apa strateginya itu hingga tak lekang dimakan zaman? Muhammad Al-Fatih 1453 lah jawabannya.
Menurut Al-Fatih kunci kemenangan ada dalam 3 hal ini; Mempelajari al-Qur’an, mengamalkannya dalam perbuatan. Hal utamanya adalah tidak meninggalkan sholat, terkhusus wajib dan lainnya sunnah pun sholat malam. Dan yang ketiga puasa sunnah. Tak ayal setengah dari prajuritnya selalu melaksanakan sholat tahajud. H. 110

Konstantinopel, selama lebih dari 1000 tahun tidak ada yang bisa menaklukan. H. 6. Terakhir Sultan Murad II terpaksa harus bertekuk lutut kepada Negara yang memiliki tembok paling perkasa di zamannya. Sudah tak terhitung senjata apapun coba menghancurkan tembok tersebut, tapi ujungnya adalah pantulan tumpul dari senjata, sekuat apapun itu. Bila saja bukan karena keimanan dan keyakinan yang kuat akan bisyaroh Nabi mungkin Al-Fatih dan pasukan akan mundur karena gempuran demi gempuran tetap saja dapat dihalau oleh prajurit Konstantinopel. Bahkan menurut Halil Pasha, salah satu wazir atau menteri pada saat ini menganggap perjuangan Al-Fatih untuk membebaskan Konstantinopel adalah perjuangan yang mustahil. Kekalahan demi kekalahan menimpa pasukan Al-Fatih. Tak terhitung lagi berapa puluh ribu pasukan yang meninggal akibat lemparan senjata dari para prajurit bertahan. H. 222

Namun, kenyataan ini telah diprediksi oleh Al-Fatih bahwa setiap usaha pasti ada rintangan yang menghadang. Hal itu tak lain menguji keimanan seorang hamba. Dengan langkah gontai para prajurit yang tersisa kembali ke perkemahan. Namun yang pasti siapa yang dapat bertahan dialah yang memperoleh kemenangan. H. 156 dan tanpa disadari tantangan terbesar justru sudah menunggu di depan.

Sultan Mehmed biasa ia dipanggil tidak dapat memejamkan mata barang sedikit saja. Kegiatannya di malam hari ia habiskan dengan membaca al-Qur’an dan sholat tahajud. Selain memikirkan bagaimana caranya agar dapat menggempur tembok Konstantinopel juga menguasai pertahanan para prajuritnya ia pun harus menghadapi persoalan yang lebih pelik bahkan yakni gejala tidak baik di kubu internal. Memang sejak zaman Rosul pun kaum munafik selalu menyertai kaum muslim terlebih sudah jauh-jauh hari dalil tentang itu tercantum dalam al-Qur’an surat A-Taubah: 47-50. H. 170-171

Sekali lagi yang membuatnya bangkit adalah pesan dari Sang Guru bahwa sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pesan tersebut kian menguatkan keimanannya kepada Sang Kholik. H. 177 dan saat yang ditunggu-tunggu itu tiba. Ketika senja memasuki malam dan bulan menampakkan bentuk sabit sama halnya dengan bendera muslim. Karena masyarakat Konstantinopel masih kental akan mistisisme maka mereka menyangka bahwa keburukan sebentar lagi kan menerpa mereka.

Saat kekuatan spirit itu full dan siap menerjang benteng kokoh itu pihak lawan mampu menumbangkan prajurit demi prajurit muslim. Saking banyak yang terbunuh saat menaiki benteng Konstantine maka yang terlihat adalah tumpukan manusia dengan darah segar mengalir membanjiri tanah yang dijanjikan. Dengan tetap mengomando Al-Fatih merasakan betapa pengorbanan itu teramat dahsyat. Sudah tak terhitung lagi berapa ratus ribu prajurit ksatrianya tumbang. Belum lagi diperparah dengan prajurit yang terluka berat. Ia tahu bahwa mereka telah syahid dijalan-Nya

Disaat perjuangan itu terasa perih ia tetap mengayuh semangat para prajuritnya. Pekikan suaranya telah menyembunyikan suara tangis dan air mata yang jatuh. Pilihan kita hanya dua, syahid atau menang. Itulah sepenggal spiritnya kepada para pejuang muslim.
Saat membaca bagian ini jujur hanya air mata di keheningan malam yang menemani saya. Pengorbanan itu teramat besar, yang meluluhlantakkan semuanya dalam kepasrahan kepada janji Allah. Tidak peduli lapar menerpa, sakit yang mengucurkan darah segar. Hanya perjuangan di jalan Allah tujuan mereka.

Kegentingan mulai menjalari Sang penakluk, ia menyuruh prajuritnya untuk memanggil Sang Guru agar menemaninya. Namun prajurit itu kembali sendiri tanpa Sang Guru. Dengan situasi tersebut Al-Fatih kembali ke perkemahan untuk menemui langsung Sang Guru. Penjaga tidak memperbolehkannya masuk. Ia tidak menggubris larangan penjaga. Ia merangsek masuk dan di sana terlihat Sang Guru tengah bersujud lama sekali. Saat mengangkat kepala matanya sangat sembab oleh air mata. Ya Allah, NabiMu bukan seorang pembohong dan janjiMu adalah sebenar-benar diatas semua kebenaran, bebaskanlah Konstantinopel oleh para pejuangMu. Do’a dengan kepasrahan akut kepada Sang Pemilik Bumi.

Melihat itu, dengan menahan tangis tanpa berkata-kata Al-Fatih kembali ke medan juang. Dan disaat yang bersamaan meriam yang dilemparkan ke tembok akhirnya runtuh dan meninggalkan lubang menganga yang besar sehingga dengan mudah para prajurit muslim merangsek masuk bak air bah. Dan seketika pihak musuh terkepung. Lalu bagaimana dengan masyarakat Konstantine?, kemudian nasib rajanya? Biarlah Al-Fatih 1453 yang menjawabnya.

Al-Fatih menginjakkan tanah Konstantine pertama kali di Hagia Sophia, sebuah gereja orthodox yang kemegahannya tak tertandingi di masanya. Di sana banyak masyarakat sipil, anak-anak, pendeta, dan perempuan. Mereka menampakkan wajah takut dan tegang saat melihat Al-Fatih masuk. Tangisan yang terdengar dalam keheningan. Al-Fatih melangkah mendekati perempuan yang menggendong seorang anak. Tampak di wajah perempuan kengerian yang kan menimpanya, ia mencoba mundur perlahan berharap tidak terbaca. Al-Fatih semakin mendekat, ia lalu menjulurkan tangan kanannya dan membelai pipi sang anak. Sang anak tersenyum padanya dengan dibalas senyum oleh Al-Fatih.

Al-Fatih memangku sang anak dan kembali mendekati pintu ke luar. Lalu ia mengucapkan kata-kata yang tidak pernah terbayang sebelumnya oleh mereka yang berada di Hagia Sophia. Memang kata-kata apa yang diucapkan oleh beliau? Jawabannya, selamat membaca.


Judul                            : Muhammad Al-Fatih 1453
Penulis                         : Utsd. Felix Siauw
Penerbit, th. Terbit       : Al-Fatih Press, cet. 10, 2016
Hal                               : 320 hal.+ xxvi
ISBN                            :978-602-17997-0-3

 September 2017
- Isaimamiqi -


0 komentar: