Selasa, 21 Agustus 2018

Hijrah Itu Cinta



Kisah motivasi, ilmu tentang islam yang dibingkai dalam cerita fiksi Indonesia, dimana ada Fajar, Senja, dan Satria. Pertemuan Senja dan Satria yang tidak disengaja sehingga ada perasaan saling tertarik satu sama lain, dimana pergaulan dan penampilan mereka seperti anak kekinian yang asik dengan dunia hiburan dan senang-senang. Namun ini baru kali kedua yang dilakukan senja, ia beranikan seorang diri ke diskotek, untuk melepas penat setelah seharian dipenuhi jadwal pemotretan.

Senja dari kecil tidak mengenal sosok seorang ayah bahkan saat ditanya sama ibunya, “Senja tidak punya ayah, Ayahmu sudah mati, Nak” ujar Ibu, hingga ia tak mengenal sosok laki-laki yang tak pernah ada dalam hidupnya. Lelaki paling tak bertanggung jawab. Lelaki paling dia benci. Begitu juga dengan keluarga Satria, ia tidak pernah merasakan cinta di rumahnya. Ayah dan Ibunya selalu bertengkar, Satria memiliki adik perempuan yang baru saja masuk perguruan tinggi.

Satria mempunya teman bernama Angga, Angga bisa dibilang mulai hijrah dan suka mengikuti pengajian, dulunya teman nakal Satria. Mereka sering kumpul di arena  skate park. Angga mencintai skateboard dengan kesungguhan hati sedang Satria, skateboard hanyalah alat untuk terlihat keren dihadapan para gebetannya. Senja menjadi mangsa selanjutkan Satria, hanya untuk memuaskan nafsu dunia.

Angga sebagai sahabat senantiasa menasehati Satria agar berhenti dari kebiasaannya yang suka modus dan menaklukan hati perempuan, hingga menjadi korban nafsu dunianya. “Aku enggak pengin melihat sahabat sendiri menzalimi orang lain,” kata Angga.

Ibu Senja ingin bercerita tentang sosok ayah, namun senja tidak mau mendengarkannya, ia malah tak menghiraukan dan masuk kekamar. Hati ibu pun sedih, air matapun berurai, ibu teringat nasihat ustadz “Berdzikirlah, ingatlah Allah maka hati akan menjadi tenang, dan zikir terbaik adalah memperbanyak istigfar.” Berulang ibu mengucapkan kalimat istighfar dengan sepenuh hati. Sebegitu bencinyakah Senja dengan Ayahnya?

Senja heran dengan perubahan ibunya yang akhir-akhir ini kemana-mana pakai kerudung, suka sholat, Baca Al-qur’an, dan suka ikut pengajian. Sejak tiga bulan terakhir ini Paman dan Bibi pindah kerja dari Jakarta ke Bandung. Ibu sering bertemu dengan Mang Didin dan Bi Ratna, sejak saat itu Senja melihat Ibu semakin aneh, namun apapun yang terjadi pada Ibu, Senja akan selalu mencintai Ibu, Perempuan yang tercipta dari sejuta air mata.

Satu waktu di dalam kelas, semua murid dites hafalan surah-surah pendek, Senja dipanggil dan dites surah Al Ikhlas. Dia berhasil membacanya dengan baik dan percaya diri. Lalu  giliran Fajar dipanggil ke depan dan dites surah Adh-Dhuha. Sayangnya Fajar hanya mematung didepan kelas. Ia ditertawakan oleh teman-temannya kecuali Senja yang merasa kasihan melihat Fajar murung dan menundukkan wajahnya. Senja pun paham akan permasalahan Fajar, karna ia tidak punya Juz Amma. Senja pun meminjamkannya.

Alur ceritanya sulit ditebak, kadang maju kadang mundur.

Ternyata dahulu ibu Senja punya pengalaman pahit yang sulit untuk dilupakan. Namun kini Ibu berusaha untuk menerima kesalahan orang lain dan ikhlas membuka lembaran baru.

Bagi Fajar surah Adh-Dhuha menjadi motivasi untuk bangkit dan terus berjuang, cemoohan dan ejekan kekurangan dengan sebutan "si yatim miskin" menjadikannya kuat. Hingga Ia lulus berpredikat  cum laude  dari IPB.

Satria mengajak Senja ke sebuah Hotel dan menginap dan merekapun hampir melakukan perbuatan yang paling dibenci Allah. Tapi tiba-tiba ada telfon bahwa ibunya Senja masuk Rumah Sakit, rencana Satria pun gagal. Tatkala iman sudah dirasuki hawa nafsu, maka syetan pun akan mendekat.

Saat Ibu Senja mulai pulih, Mang Didin bercerita akan perihal ayah Senja. Ayah senja sudah meninggal 3 bulan yang lalu, senja kaget. “Apa benar Ayah senja lelaki berengsek dan pengecut?” ujar Senja. Ada surat yang dititip Ayah sebelum ia meninggal. Ayah Senja sangat disegani di Kampung Hijrah dan meraih husnul khatimah. Surat itupun dibaca Satria.

Satria pun pergi ke Kampung Hijrah dan menjadi Santri di sana. Fajar bertemu dengan Senja, kerinduan Fajar yang sudah lama tak bertemu Senja. Senja bertemu Fajar dikantor Pamannya ia pun tak mengenali Fajar, hingga Fajar mengeluarkan juz amma yang dipinjamnya dulu.

Benih cinta Fajar dan Senja tumbuh, teman lama yang bertemu kembali, merekapun Ta’aruf. Ada materi menjemput jodoh dengan rumus 3M. Mengikhlaskan hati, memantaskan diri, dan mendapatkan jodoh di waktu dan saat yang tepat. Akankah mereka berjodoh?

Satria yang sedang berproses taubat di Kampung Hijrah melihat rumah Ayah Senja disana. Ia merasakan kedamaian. Disaat Kampung Hijrah disangka ada teroris, pimpinan pondokpun ditangkap, dengan sigapnya Satria membela dan berlari mengejar, hingga pelurupun melayang ke rusuknya.

Dengan siapakah Senja mengisi rumah Ayahnya yang di Kampung Hijrah? Silahkan baca langsung bukunya ya, sangat bangus untuk singelillah dan para orang tua, ada parentingnya juga.

Terharu membaca kisah perjuangan Ayah Senja, Satria, Fajar dan Senja dalam menjalankan proses hijrahnya. Hijrah itu Cinta. Hijrah itu proses perjalanan kehidupan menuju satu episode bernama kematian. Cinta pada Sang Pencipta, takut akan dosa dan maksiat. Setiap hari, detik kematian itu mendekat. Dan yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan bekal kematian.

Judul buku: Hijrah Itu Cinta
Penulis: Abay Adhitya
Penerbit: Bunyan
Halaman: 276

      6 Juni  2018
- Belia Laksmi Masril -

0 komentar: