Minggu, 14 Mei 2017

Merangkul Beruang Merah

Hasil gambar untuk buku Merangkul Beruang Merah




Novel Merangkul Beruang Merah mengisahkan perjalanan hidup seorang Ade Irma Elvira, tentang bagaimana proses perkuliahan di Rusia dimulai dari memohon restu orang tua hingga tantangan ekonomi dan juga akademiknya di Rusia. Gadis mungil berjlbab ini mengisahkan pengalamannya dengan gaya novel serupa dengan Novel “99 Cahaya” milik Hanum Salsabila atau “Laskar Pelangi” milik Andrea Hirata, atau juga “Negeri 5 Menara” milik Ahmad Fuadi. Saya kurang bisa membedakan secara persis mana yang nyata, mana yang fiktif dari Novel ini. Meski begitu, jika dibandingkan dengan novel-novel yang saya sebut di atas, maka novel karya gadis bertubuh mungil ini bagi saya lebih menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Dalam artian, masih banyak Vira meninggalkan jejak-jejak pribadinya. Seperti nama teman, nama kampus, hingga tak ketinggalan foto-foto pribadinya selama studi di Rusia.

Ade Irma Elvira yang akrab disapa Vira berasal dari kota Medan, Sumatera Utara, adalah seorang gadis mungil berjilbab yang memiliki cita-cita untuk bisa melanjutkan studi ke luar negeri. Kebetulan atau tidak, ketika Vira membantu abah dan ibunya yang bekerja di kantin sekolah, Vira bertemu dengan alumnus dari luar kota yang sengaja berkunjung untuk melepas rindu pada masa sekolahnya. Singkat cerita dari alumnus ini, Vira mendapatkan informasi mengenai beasiswa lanjut studi ke Rusia. Namun, beberapa hari setelah Vira dinyatakan lolos Beasiswa dari Pemerintah Rusia, ibunya mengungkapkan bahwa ia tidak setuju kalau anaknya lanjut studi ke luar negeri dengan alasan ibunya tidak ingin berpisah jauh dari anaknya, hal itu membuat mimpi Vira untuk lanjut studi ke luar negeri agak tersendat.

Di malam terakhir sebelum meninggalkan Medan, abah dan ibu memberikan nasihat kepada Vira yaitu “Ingat! Jangan lupa tanggung jawab kita sebagai muslimah”. Perjalanan yang sungguh panjang dan berderai air mata untuk mendapatkan restu ibu, akhirnya selesai, dan perjalanan untuk studi ke Rusia akan dimulai dari titik tolak Bandara Soekarno-Hatta menuju kota Moskow – Rusia.

Sebagai mahasiswa indonesia satu-satunya kang kuliah di Universitas Tirmiyazev – Moskow, tidak menghalangi semangatnya untuk terus menimba ilmu di negeri orang. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, dilalui Vira dengan tambahan-tambahan suka maupun duka hingga mengantarkan Vira meraih gelar Master dengan predikat lulusan terbaik ketiga dan satu-satunya Mahasiswa asing yang berhasil meraih peridat itu.

Setelah kelulusan, ada sebuah tawaran untuk mendapatkan gelar Ph. D, namun Vira tidak mengambilnya dengan alasan sudah waktunya Vira pulang ke Indonesia untuk mengabdikan ilmu yang sudah Vira dapatkan di negeri orang terlebih lagi ibunya yang menginginkan Vira untuk segera kembali ke tanah air.

Sekembalinya ke tanah air, Vira pulang ke Medan membawa ijazah master yang membuat bangga seorang tukang sapu di kantin sekolah, dari situ ibunya berkata “Tidak selamanya anak selalu belajar dari orangtua. Terkadang orangtua pun bisa belajar dari seorang anak. Belajar ketekunan, kerendahan hati, semangat, cinta, keikhlasan, sabar, saling mengasihi dan banyak hal lainnya yang dapat dipelajari dari seorang anak”.

Menjadi catatan tersendiri bagi saya, bagaimana Vira membuat gambaran tentang betapa sulitnya meminta izin orang tua, mencari tambahan biaya hidup karena beasiswa Pemerintah Rusia yang hanya sedikit. Namun dengan tekad dan semangat yang kuat Vira pada akhirnya mampu menyelesaikan studinya di negara beruang merah itu. Dan gambaran kesulitan itu adalah kalimat paling lugas dari kalimat penyemangat yang diberikan oleh para motivator: bahwa hidup harus strong.

Vira juga menambahkan kata mutiara yang ia sampaikan untuk pembaca:
“Halangan dan rintangan bukanlah hal yang membatasi diri kita untuk maju”



Judul Novel               : Merangkul Beruang Merah
Penulis                        : Ade Irma Elvira
Penerbit                     : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit             : 2016
Jumlah Halaman      : 304
Peresume                   : Muhammad Insan Aulia

0 komentar: