Minggu, 14 Mei 2017

Canting


Canting

Mendengar kata Canting mengingatkan kita pada sebuah alat yang digunakan untuk membatik. Biasanya digunakan dengan bantuan alat dan bahan lainnya seperti lilin dan kompor kecil. Benda ini lebih mudah ditemukan di daerah Jawa Tengah misalnya Solo, Pekalongan, Jogjakarta.

Buku berjudul Canting ini memang berkaitan dengan alat membatik ini. Berlatar daerah Solo dengan Pasar Klewer sebagai salah satu pusat kehidupannya. Di dalam cerita ini juga lekat dengan budaya dan adat jawa yang serba anggah ungguh. Bertoleransi tinggi, lebih baik menyembunyikan keburukan atau ketidaksukaan daripada menimbulkan sengketa bahkan karma.


Buku ini sudah lama sekali saya baca, ketika karya Arswendo Atmowiloto berjudul Keluarga Cemara diserikan di televisi. Saya jadi tertarik membaca karya-karya Arswendo yang lainnya. Dan pekan lalu, buku ini tersembul dari persembunyiannya. Membuat saya ingin membaca ulang dan menuangkan resumenya di sini. Gaya bahasa Arswendo khas jawa banget, mengalir dan membawa kita masuk ke dunia tulisannya. Banyak penanaman nilai di sana sini. P[astinya pembaca perlu hati-hati juga agar nilai-nilai tersebut tetap terfilter dengan baik, sesuai norma dan keyakinan pembaca.

Raden Ngabehi Sestrokusuma atau Pak Bei adalah seorang bangsawan Jawa pemilik pabrik batik yang diberi cap Canting. Istrinya adalah seorang bekas buruh batik. Bu Bei adalah gambaran wanita Jawa. Kebahagiannya adalah memberikan bekti yang tulus kepada suami.

Tuginem, nama asli Bu Bei, sejak ia kecil ia telah tinggal di rumah Ngabean bersama orang tuanya. Ia juga bisa membatik. Ketika Raden Ngabehi Sestrokusumo, putra sulung Ngabean meminangnya, ia masih berumur empat belas tahun. Priyayi. Ia akan menjadi seorang priyayi, yang akan mengangkat derajat orang tua, leluhur serta seluruh desa tempatnya berasal. Orang memanggilnya dengan Bu Bei, dan kelak ia akan bisa memilihkan nama yang bagus untuk anak-anaknya.

Kelak ketika ibu mertuanya wafat. Bu Bei dipilih oleh sang ibu dalam wasiatnya untuk melanjutkan penjualan batik di Pasar Klewer. Dan batik adalah denyut kehidupan keluarga ini.

Sampai di sini saya melihat budaya keluarga ini bak kehidupan keluarga “Raja Hutan”. Pak Bei. Bagaimana Sang raja hutan, singan jantan, begitu pongah meng’ada’kan dirinya. Ia tebar pesonanya, kekuasaannya sehingga tak seorang pun berani menatap wajahnya langsung. Kata-katanya dalah titah. Namun juga cerdas dan cerdik. Tahu tindakan yang tepat di situasi yang tepat pula. Sedikit sekali ia gunakan tenaganya untuk pekerjaan kasar. Cukup denga bahasa tubuh, sekelilingnya faham apa yang dimasud. Ia juga hakim dalam segala permasalahan.

Bu Bei. Bak isteri raja hutan. Ia lah yang membanting tulang, mengatur bagaimana buruh batik bekerja, mengatur pemasukan dan pengeluaran bahan-bahan kebutuhan pembuatan batik, cash flow penjualan dan pembelian. Transaksi besar dan kecil di Pasar Klewer. Ia adalah raja bagi buruh batik. Namun, lemah tak berdaya di hadapan Pak Bei. Pak Bei adalah kebenaran absolut bagi dirinya. Marahnya Pak Bei adalah musibah baginya. Bahagianya pak Bei adalah anugerah baginya.

Dari pernikahan ini lahirlah lima anak dengan pembawaan masing-masing, namun semua berjiwa ningrat. Wahyu, putra pertama dan kesayangan Bu Bei. Lintang, Bayu, Ismaya, dan Wening.
Di usia Bu Bei yang mulai senja, tiba-tiba beliau hamil lagi anak keenam. Merupakan kegelisahan bagi Bu Bei, secara adat dia sudah dijampi sedemikian rupa agar tak beranak lagi. Tapi kok.... Bu Bei ketakutan akan murka Pak Bei. Walaupun hal itu tak terjadi. Sehingga lahirlah anak keenam Subandini atau Ni.

Ni.... berbeda dengan kelima kakaknya, ia lah satu-satunya yang mau bergaul dengan buruh pabrik, bercanda dengan paman dan bibi di gadog (bedeng tempat tinggal buruh batik). Ia tahu persis bagimana buruh batik hidup. Bahkan ia pun yang mengenal nenek kakeknya, notabene oruang tua ibunya, yang juga buruh batik.

Hingga suatu masa. Pak Bei dan Bu Bei sampai di usia lanjut. Kelima anaknya tumbuh dan maju pendidikannya. Hidup di kota-kota besar. Ni, berkuliah di Semarang. Batik canting mengalami kemunduran. Kalah oleh batik cetak. Batik printing.

Ni, yang selesai kuliah di apoteker, berpikir ingin menghidupkan kembali batik canting keluarganya.
Keputusan Ni untuk mengurusi usaha pembatikan milik keluarga alih-alih mengikuti calon suaminya pindah ke Batam merupakan pukulan bagi sang Ibu. Ni ingin mengangkat keberadaan pabrik batik Canting yang perlahan tergeser oleh kemunculan pabrik batik printing. Ni ingin berbuat sesuatu untuk mbok Tuwuh, Pak Jimin, dan buruh-buruh batik lainnya yang telah bekerja keras selama ini sehingga ia dan keluarganya hidup terhormat. Sejak kecil Ni dekat dengan para buruh itu. Bagi Ni, mereka tidak hanya sekedar bekerja tetapi mereka mengabdi. Ni merasa bersalah kalau ia tidak peka, kalau ia mendiamkan saja.

Ni tak menyadari bahwa keputusannya untuk mengurusi batik adalah sesuatu hal yang sangat ditakuti oleh sang Ibu. Malam itu Bu Bei dilarikan ke rumah sakit karena tensi dan gula darahnya yang tinggi. Sepeninggal Bu Bei, Ni tetap pada niatnya semula, mengurusi pabrik batik agar para buruh memiliki pekerjaan yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaan bagi mereka.

Namun membangkitkan usaha batik tulis tidaklah semudah yang ia bayangkan, terutama menghadapi gempuran pasar dari batik printing yang harganya lebih murah. Ni nyaris putus asa, ketika akhirnya ia menyadari bahwa untuk bisa bertahan maka perusahaan batik miliknya harus melebur diri. Memuji keagungan masa lalu ataupun memusuhi pesaing bukanlah cara untuk bisa bertahan hidup.

Melalui para buruh batik Ni belajar tentang nilai-nilai hidup. Pengabdian, tidak menuntut pengakuan, dan kepasrahan adalah sikap mental yang diperlukan untuk tetap bisa menghadapi dunia dengan segala perubahannya.

“Dalam pasrah tak ada keterpaksaan. Dalam pasrah tidak ada penyalahan kepada lingkungan, padaorang lain, juga pada diri sendiri.” (halaman 283)

Dari batik, tidak hanya sebatas melesatrikan budaya, banyak ilmu kehidupan yang dipelajari dan dipraktikan langsung.



Bulan               : Maret 2017
Judul buku       : Canting
Pengarang        : Arswendo Atmowiloto
Penerbit           : Gramedia
Tahun terbit     : 2013

Erna Maryati

0 komentar: